Tuhan, panggil bathinku lagi. Aku ingin sehat, merasakan kembali menjadi manusia yang bebas dengan tubuhnya. Aku tak suka seperti ini, aku tak ingin menjadi beban. Apa aku terlalu nakal? Padahal tiap hari aku tabungkan coretan-coretan hidupku kepadamu seusai sholat, ini janjiku untuk melunasi hutangku padamu. Jika usiaku masih panjang, tolong merdekakanlah tubuhku dalam menikmati kesempatan ini. Jika pun tidak, aku berharap hidupku jadi tak sia-sia. Apa yang kulakukan dari jerih payah usahaku tak mungkin sia-sia. Aku berusaha. Bahkan dalam kesakitan, aku berusaha dengan iman engkau menyayangiku dengan cara seperti ini. Kerap kukatakan pelan pada tanganku. Tanganku, aku ingin berterimakasih padamu, karena sudah menemani hidupku, mempermudah pekerjaanku, dan meluluskanku menjadi wanita yang kerasan dalam pengetikan. Tanganku tak suka menulis, katanya. Sejak lahir, tangan kananku pun bermasalah. Ada bagian tulang yang tumbuh tidak biasa. Jika lama menulis, tulang itu terangkat dipergelangan tangan, makanya aku amat sering merasakan pegal sekaligus sakit ketika menulis. Kata dokter, itu harus dioprasi kecil. Tapi aku masih dapat menulis, kataku. Meski sakit. Posisinya pun berada tipis dengan pembuluh darah. Karena itu, aku cenderung memanfaatkan gadget yang kumiliki. Aku bukan penulis yang baik, kataku. Aku pengetik terbaik dan tercepat, hiburku kepada tanganku.
aku rasa cukup
hujan tak mampu berangkat dari atas.
dan tinggalah yang ada
gentayangan waktu
yang menakar jarum-jarum tegak ke angkasa
memperbarui sampul sebuah hampa ditabung kejatuhan.
angin tak elakan, angin yang kesepian
menyapukan sentuhan yang membius.
apalah lagi, dua kata yang penuh bahagia
leher kecil yang sempit menahan nafas
dan ia terus memanjang.
aku memanggilmu bahasa
kerap kupanggil kelingkingmu yang luka
tapi kesakitan tidak ada tuntasnya.
apa yang benar kita butuhkan?
apa yang benar-benar kita butuhkan?
yang terbiasa sendiri dengan senyapnya
; kita beradu tanya dan tentang tanya.
30 september 2012
Mata
sore berwarna biru tua
ada yang bilang
bahwa mata, sangatlah berbahaya
ketika melihat.
hampir disetiap letak awan
aku teringat sore itu ; mata yang menjauh
tetapi mata itu, adalah matamu
yang sempat menghalangi mataku
maka lihatlah
sejadah masih tergelar,
airmataku tak seberat 1kg
sujudku menunduk dengan berat
mataku ringan-ringan.
tetapi, masih belum juga menemukan
--tepinya.
jika kau takar,
apakah airmataku lebih dari volume gelas itu?
aku belum pernah menimbangnya.
2011
Jari
jari-jari kerap merangkulkan beban
disela ruas, dikecil-kecil celah
melipatkan garis. tentang kemarin
kita lalui hidup ini.
jari telunjukku
selalu menduga hal dengan tegas
menanyakan itu bin-tang yang kutunjuk
tapi itu lampu, nyatanya. hanya lampu
di dalam kamar. tapi jariku mudah menunjuk
itu hidungmu, aku melihatnya dengan jariku.
jari kelingkingku
berlari kecil di antara ke empat lainnya.
dia itu pendek. pendek itu dia.
tapi dia itu lincah, jika ada guntur berlarian
ingin menangkapnya. dia gemar menyusup
ke dalam telingamu.
hanya dua jari, sisanya ada tiga kuprkan.
mereka sedang di depan cermin, terpukau
menyaksikan ikan-ikan berloncatan
di air yang asin.
2011
18 November
/1/
Aku ingin menuliskan ini di hatimu
dari sepasang anak kucing yang baru
kutemui, di sore tadi.
tapi mulutnya ke depan haus, ingin minum -
air susu, dari induknya yang mati dua pekan, lalu.
setelah aku menemukanmu, di jalanan basah
Kucing itu berangkat menuju lahunanku.
Kita kemudian saling menyapa guntur
Di tepi jalan. Aku menitipkan surat kecil
Di sakumu, dengan tangan kaku. Tertulis
“Aku ingin menemuimu kembali”
kemudian sepasang itu, memanjat ke lampu.
aku melihat senyuman yang giginya hilang
karena kaki-kaki kita melangkah ingin pulang
tapi ke mana? Ke anak kucing yang malang?
; menemuimu adalah kepulanganku.
Kemudian sepasang itu, memanjat ke lampu.
2011
/2/
Gambar itu seakan tertawa
dalam tangisan kering.
2011
/3/
bolehku bertanya, bu?
tapi ibu diam. tak memaling
menganggapku ada.
bolehku bertanya, bu?
ibu malah pergi
membawa fotoku
ke pelelangan ikan.
seharga 25 sen kembali 1 sen.
bu, bolehku bertanya?
lewat waktu, ibu tak lagi
pernah melihat. ibu buta.
dan buta itu aku juga.
dunia ini gelap ya, bu?
sejak buta, ibu lupa
cara berbicara.
2011
/4/
aku sedang ingin mengatakan rindu
tapi dia melarangku. dia kupu-kupu
yang terbang semaunya, aku bebas-
menangkap. namun dia tak mau bebas
dalam tangkapanku.
hap..hap..hap...
dia mengajakku melompat, dari ranting
yang telah bugil. aku jadi daun
dimakan ulat-ulat, aku jadi kering dan-
berbolong-bolong. jatuh mendekap tanah
berwarna merah.
aku sudah jatuh..
di merah yang berasal dari tubuhku.
2011
/4/
katakanlah...
jujur.
mengapa aku
tak pernah miliki
senyummu.
2011
selalu ada alasan untuk menjumpaimu. begitupun ketika kita tengah gencar hadapi macam kegalauan waktu. seakan badan kita tengah keriput, karena di dekatmu aku merasa masa mudaku telah cepat terlewati denganmu.
aku pura-pura menahan tawa, dan berusaha anggun mengucapkan sebuah kata yang mungkin akan merayap di hatimu kemudian. tapi daun yang bergesekan, terdengar jua suaranya. di sebuah padang hijau, kita jadi umpama kupu-kupu yang ingin terbang saling bersama, saling sendiri lagi.
tapi angin sebenarnya tak selalu membuat keonaran dalam wacana badai kali ini. sebenarnya angin tahu, bahasa ajaib yang membuat cemburu-cemburu rela bertanggung adu. ketika sepasang gambar mencerminkan wajah kita sedang melerai keasingan. senyuman lugu, hanya dengan begitu aku menemukan cara untuk menunjukan ada indah di hidupku juga.
akulah yang menemukan bulan april begitu semai, dan beberapa keping mimpi menjuntaikan kilau dari lubuk. dan kemudian april pun berganti dan ia digantikan oleh mei. suatu saat april mati, dan ia akan hidup kembali. oleh keabadian memang di dada yang berjiwa tegar.
kemudian, aku mulai menceritaka kepadamu, tentang sebaris kisah; semakin dia memburu cinta itu semakin jauh pula larinya dan satusatu hanyut dari jangkauannya. Karena itu dalam rasa putus asa dia sendiri berdendang dimabuk kerinduan dalam keheningan total.
mungkin benar yang ia sampaikan padaku. tentangmu yang manusia, tentangku juga yang sama manusia. hidup manusia tidak dan tidak pernah menjadi suatu lukisan selesai hasil satu sapuan kuas yang pasti dari ujung kiri ke kanan dan dari atas ke bawah. dan ini berkat karena kalau sekiranya hidup adalah lukisan yang sudah sejak awalnya maka hidup yang sejak semula adalah hempasan yang tak pernah diingini menjadi laknat dan banyak yang sudah menghabiskan hidupnya sendiri. tetapi hidup lebih menjadi upaya menyapa kuas secara tidak pasti di sana sini, kadang-kadang sebercak cat jatuh di luar kemarau, dan malah lebih sering sapuan yang direncakan dibuat dengan pasti tidak menghasilkan kesan yang dimaksudkan.
Diary seorang istri untuk suaminya
Surat kecil ditulis tanggal 27 juli
: someone who I called my husbandapa kabarmu di rentang tempatmu, suamiku? langit betapa paham, kejaran rindu kita. serta cuaca di sini, sempurna menempahkan segala macam laranya. bolehkah aku merindukanmu, dan pura-pura tak merasakan betapa kita berada di benua yang berbeda. dalam-dalam cahaya menepis, dikejauhan. apa yang terlihat, suamiku? aku melihatmu. aku hilang denganmu, dan kau aku menjadi bayangan yang bertampilan dipikiran yang sibuk menuliskan izin mengemudikan kesendirian.aku jadi sering kalut, mendengar kematian di komplek ini. padahal kematian, adalah satu-satunya kepastian yang kita tahui di masa depan. apa yang harus kita takuti, suamiku? apakah kau akan takut, bila aku lebih dulu pergi? maaf, aku membuatmu sedih membaca surat ini.udara begitu sempit. aku merasa dadaku sudah tak sesehat dulu. karena terlalu banyak rindu meretas di atas kertas ini dan berpanggulan dengan harapan, di dada yang minim ini. kematian makin jelas terlihat. aku menyaksikan ia, sedang menemui nomer antrian paling kecil. namun jangan khawatir, aku baik-baik saja, suamiku. kita paham, antara nafasmu dan nafasku tak pernah lekang terpisahkan oleh suatu apapun. karena kau dan aku terhubung dengan ikatan, kemahasucian cinta tuhan.suamiku, ajaklah aku ke laut sekali lagi. aku ingin laut seakan mengenal tubuhku yang asin ini. dan keasinan di tubuhmu, akan lekas hilang. oleh karena kita berada di laut. berdua, dengan keikhlasan. satu di antara kita mungkin akan tenggalam. satu di antara kita mungkin selamat. satu di antara kita yang telah satu mungkin dapat melanjutkan kisah ini. karena, ketika cinta telah kau sumbangkan pada seorang wanita yang menuliskan ini. maka kau akan hidup pada keabadian, yang tidak semua orang tahu. betapa cinta, dapat menjadi doa yang tak pernah terselesaikan.selama ini, aku kerap menyembunyikan kegelisahan padamu, suamiku. maafku. tapi itu hanya sedikit. kegelisahan akan purna, setelah kau dekap aku. sambil berusaha sekencang-kencangnya mendorong ayunan berwarna biru muda. "dan aku mencintaimu, istriku..." hatiku tersenyum, sekaligus ia terisak oleh tangis yang terendam lama. kau serupa matahari, yang hanya diam diporosnya. poros yang hanya dengan penuh cinta, dan kelembutan. ku dengar suara cicit anak-anak dalam mimpimu, memanggil-manggil "ayah.. ibu", dalam tidurmu, aku melihat wajahmu menggulum senyuman begitu manis. tengah malam, jika kau sudah tertidur di sofa itu. aku mendekatimu, menghayati penuh, mimpi-mimpimu. kukecup mimpimu dengan pelan, agar kau tak terbangun lalu hendak menangis, jatuh dalam pundakku. tapi kau tak menuntut, mimpimu itu segera hadir bersama kita.sebenarnya,aku ingin menjadi seorang ibu.untuk anak-anakmu-yang lalu memanggilmu "ayah.. abi.."
Diary Seorang Istri untuk Suaminya
usai mengaji, sebagai seorang istri untuk suaminya, salah satunya menyiapkan makan malam kesukaannya. curahkanlah kepada keluarga kita, limpah kasih sayang dan kelembutan.
sehabis itu, ia tersenyum seraya berkata, terimakasih, istriku. masakanmu lebih enak dari hari lalu. dan juga karena kehadiranmu di sampingku. aku juga tersenyum manja padanya, kubalas dengan bisikan, sengaja, ini untukmu. semoga kau tak pernah bosan dengan masakanku.
kami duduk hangat, menunggu isya. memperbincangkan cerita kami, padahal tidak jauh. aku berada di sampingnya, ia juga berada di sampingku. namun sesuatu terasa jauh, hingga membuat masih saja macam rindu bergumul. ini tentang rindu, kukatakan padanya. lusa ia akan pergi, untuk tugas barunya di luar negeri.
***
pagi di bulan juli yang dingin, aku menemani suamiku mencuci baju. ia lebih suka mencuci baju dengan tangan, ketimbang dengan mesin cuci. udara begitu dingin, di desa yang kami tempati ini. bahkan kadang, mudah saja mendengar macam suara binatang ternak dari sini yang melewat belakang rumah, untuk di mandikan di kolam. kami duduk berhadapan dengan manja, berlomba mencuci baju sebanyak-banyaknya.
mith, di dua tempat yang berlainan. aku banyak menemukan wajah baru dengan banyak cerita berpangkul ingin mereka ceritakan. katanya, mereka tak tahu cara memulai cerita yang baik. aku tersenyum kasihan pada hal lain yang kuterka mengenai diriku sendiri. kukatakan padanya, diam pun memiliki masing cerita. hal sederharna hari ini ialah mempelajari diam yang baik dan benar. belajar memulai cerita baru, mith kau di sisiku, begitupun aku. kita saling menatap tapi tak tahu letak tubuh kita di mana.
10 jam lalu kata seseorang yang menjagaku. aku harus tidur. bagaimana memulai tidur yang baik, mith? sementara kita sedang tertidur dan berada pada mimpi yang kita tempati. beberapa sedang sibuk, dengan cara mengatur waktu untuk merasa tetap gembira. beberapa dari lainnya mengatur waktu untuk kembali menjadi manusia yang sehat. tapi waktu tak dapat kita atur dengan sendirinya begitu saja. aku berpura-pura menjadi jam dinding yang malang menggantung di dinding itu. tapi tak bebas memutar masa, ke belakang atau lebih cepat menuju ke depan. baterai yang mencatu daya jam itu seperti tuhan, ya mith? dan kita sebagai jarum yang pendek itu saja. dan angka-angka itu, ialah target kita. target kukatakan lagi mith.
dan tuhan telah mengatur angkanya. pilihan kita tinggalah, apakah kita menjadi jarum yang searah, atau berlawanan arah dan mendiami tempat yang juga berbeda.
