Ke Liang Semula ( Kisah Selingan )
oleh Husni Hamisi pada 4 Februari 2012 pukul 10:46
SEMULA: Karya Afrilla Utamikemudian tinggalah kita di sinimenunggu lolongan anjing berlaludari minim jalan kepu, dan angin piatu.seakan-akan aku sedang memutari jalanandengan kapur putih, di dalam kelas masa lalutapi mimpi dari mimpi tak pernah sama, setelahnya.dan tak ada pertanyaan, menyediakan satu tempat; untukku."apakah itu sebuah tangisan, Nietzche?"dalam do'aku yang panjang tak ada perayaan.hanya bayang-Mu melinangi. itu lebih dingin dari bisikan.lebih gelap dari hitam yang menyipul-nyipulkan senyap.seperti Engkau masa lalu. mengajakku belajar berjalan.kaki-kaki kecil kita yang papa, menelusuri jalan-jalan-kafilah yang tak mudah berlalu dari punggungku.namun sakit bertabrakan dalam dada, bermukim sepanjang musim.menitahkan air mata yang selalu menerbangkan seribu balon dipipimu.tidak ada gerimis yang betah dari mata masing-masing.kutasbihkan segala, hingga yang tiada kembali; ke liang semula.2012
...
afril, aku ada disini. di liang yang kau kata itu. aku mendengar kaki kaki yang pulang ke rumah setelah menumpahkan cinta dan bunga bunga melati di atas sana, mereka pergi af, meninggalkan aku disini, hewan hewan yang pernah kubaca dalam kisah kisah tua itu belum tiba, yang ada hanya dingin di sini af, mungkin air cinta yang tertuang di atas sana tak cukup hangat kala sampai disini, setetes demi setetes jatuh membasahi baju baruku af, baju putihku ini, aku memasang pendengaran, siapa tahu mendengar namaku kau panggil, yang kudengar adalah suara suara apa yang mungkin tak pernah kau bayangkan, mereka mendekat, semakin lama suara gemanya kian lebar, andai aku bisa pipis, aku ingin pipis dulu af, lalu mengambil air wudhu saat menjemput mereka, tapi aku tak bisa pipis lagi af, padahal aku begitu ingin pipis dulu. burungku tak sanggup pipis lagi, dia hanya tenang tenang disana, melihat mataku yang mulai bergetar.
