(Lentera Layla)
Qais, aku tahu. Kau tidak sejauh dengan yang tak terkira. Tetapi di mana hadirmu? Selama bertahun-tahun aku menelantarkan senyumanku. Senyuman yang sudah menjadi debu-debu yang bertebaran tersangkut pada awan. Sungguh rerindu ini semakin memaksa, untuk aku pergi. Namun kepergian hanyalah akan membunuh diriku sendiri. Aku akan menjadi buronan, tanpa bukti. Tetapi cinta kita sudah lebih dari sekedar bukti. Hingga haruskah aku lebih lama di tahanan yang hanya tumbuhkan rasa sakit dan penyiksaan batinku? Atau bisa saja aku mengambil pedang-pedang para pengawal lalu kutusukan tepat di uluh hati. Mungkin, aku akan pergi dari sini tanpa tanda, tanpa jejak. Tetapi siapa yang membalut leluka rindu ini yang darahnya telah mengucur hingga kemanapun tercium amisnya, tercium anggur-anggur siap reguknya. Dan berakhir pada hukuman mati.
