Tuhan, panggil bathinku lagi. Aku ingin sehat, merasakan kembali menjadi manusia yang bebas dengan tubuhnya. Aku tak suka seperti ini, aku tak ingin menjadi beban. Apa aku terlalu nakal? Padahal tiap hari aku tabungkan coretan-coretan hidupku kepadamu seusai sholat, ini janjiku untuk melunasi hutangku padamu. Jika usiaku masih panjang, tolong merdekakanlah tubuhku dalam menikmati kesempatan ini. Jika pun tidak, aku berharap hidupku jadi tak sia-sia. Apa yang kulakukan dari jerih payah usahaku tak mungkin sia-sia. Aku berusaha. Bahkan dalam kesakitan, aku berusaha dengan iman engkau menyayangiku dengan cara seperti ini. Kerap kukatakan pelan pada tanganku. Tanganku, aku ingin berterimakasih padamu, karena sudah menemani hidupku, mempermudah pekerjaanku, dan meluluskanku menjadi wanita yang kerasan dalam pengetikan. Tanganku tak suka menulis, katanya. Sejak lahir, tangan kananku pun bermasalah. Ada bagian tulang yang tumbuh tidak biasa. Jika lama menulis, tulang itu terangkat dipergelangan tangan, makanya aku amat sering merasakan pegal sekaligus sakit ketika menulis. Kata dokter, itu harus dioprasi kecil. Tapi aku masih dapat menulis, kataku. Meski sakit. Posisinya pun berada tipis dengan pembuluh darah. Karena itu, aku cenderung memanfaatkan gadget yang kumiliki. Aku bukan penulis yang baik, kataku. Aku pengetik terbaik dan tercepat, hiburku kepada tanganku.
selalu ada alasan untuk menjumpaimu. begitupun ketika kita tengah gencar hadapi macam kegalauan waktu. seakan badan kita tengah keriput, karena di dekatmu aku merasa masa mudaku telah cepat terlewati denganmu.
aku pura-pura menahan tawa, dan berusaha anggun mengucapkan sebuah kata yang mungkin akan merayap di hatimu kemudian. tapi daun yang bergesekan, terdengar jua suaranya. di sebuah padang hijau, kita jadi umpama kupu-kupu yang ingin terbang saling bersama, saling sendiri lagi.
tapi angin sebenarnya tak selalu membuat keonaran dalam wacana badai kali ini. sebenarnya angin tahu, bahasa ajaib yang membuat cemburu-cemburu rela bertanggung adu. ketika sepasang gambar mencerminkan wajah kita sedang melerai keasingan. senyuman lugu, hanya dengan begitu aku menemukan cara untuk menunjukan ada indah di hidupku juga.
akulah yang menemukan bulan april begitu semai, dan beberapa keping mimpi menjuntaikan kilau dari lubuk. dan kemudian april pun berganti dan ia digantikan oleh mei. suatu saat april mati, dan ia akan hidup kembali. oleh keabadian memang di dada yang berjiwa tegar.
kemudian, aku mulai menceritaka kepadamu, tentang sebaris kisah; semakin dia memburu cinta itu semakin jauh pula larinya dan satusatu hanyut dari jangkauannya. Karena itu dalam rasa putus asa dia sendiri berdendang dimabuk kerinduan dalam keheningan total.
mungkin benar yang ia sampaikan padaku. tentangmu yang manusia, tentangku juga yang sama manusia. hidup manusia tidak dan tidak pernah menjadi suatu lukisan selesai hasil satu sapuan kuas yang pasti dari ujung kiri ke kanan dan dari atas ke bawah. dan ini berkat karena kalau sekiranya hidup adalah lukisan yang sudah sejak awalnya maka hidup yang sejak semula adalah hempasan yang tak pernah diingini menjadi laknat dan banyak yang sudah menghabiskan hidupnya sendiri. tetapi hidup lebih menjadi upaya menyapa kuas secara tidak pasti di sana sini, kadang-kadang sebercak cat jatuh di luar kemarau, dan malah lebih sering sapuan yang direncakan dibuat dengan pasti tidak menghasilkan kesan yang dimaksudkan.
da da di dudu.... saya bernyanyi? bukan. saya sedang berada pada da yang menarik da itu dengan i di d dan du dengan du yang tidak mau terpisah pilang-pilang dari tanda yang amat sederharna setelah itu, titik-titik. padahal saya sedang berjalan sekaligus membaca mac. saya bertanya pada dia, dia amat pintar, dan dia itu tidak pelupa seperti saya. dia suka tertawa jika melihat saya pura-pura mengacuhkannya diam-diam, dan itu saya katakan amat istimewa. mac mengerti saya. saya ingin memulai dari tulang-tulang yang lama telah terkubur dan bangkit kembali.
tulang-tulang bersulang di bawah tanah
di atas semuanya jadi lupa.
kini saya yakin dengan sahabat saya yang sedang mengajak saya untuk membaca isyaratnya, sahabat saya lama tak bisa berbicara, juga saya yang amat jarang bersuara. namun, bunyi itu adalah hidup juga. jadi saya tidak percaya dengan tudingan orang-orang bisu. mereka suka berbicara dengan masing-masing caranya. saya mengajak sahabat saya yang sedang menyembunyikan tubuhnya, tulang itu apa da? tanya saya, tulang itu keras, sekeras dosa. dosa itu apa da? kini da diam saja di sana, dan di mulai mendekati saya, dosa itu, katanya mulai berbicara, kebenaran sesaat. tapi saya membicarakan tulang-tulang yang bersulang dengan amat tenang di dimensi yang sulit saya jamah. kini tulang-tulang itu mungkin ingin berkata bukan ideologi-ideologi besar yang akan mengubah dunia. banyak di antaranya telah gagal dan tetap menjadi ancaman, seperti halnya neo-fundamentalisme. saya meresa tulang yang saya pandang sebagai mahkluk jelmaan politik, tapi politik yang terkandung dalam buku-buku adalah merobohkan tembok konvensi-konvensi budaya yang mengarah pada fanatisme. lalu, apa hubungannya tulang dengan politik? saya belum jawab itu, makanya kedua hal tersebut nampak memiliki persamaan sebagai rangka, penegak, penyusun, tempat melekatnya otot atau dapat dikatakan tempat jalur-jalur dibuat untuk kendaraan lain yang membopong penumpang di dalamnya bergerak, tulang itu keras tapi bisa kropos juga, dua hal tersebut seperti terlahir kembar.
tulang-tulang merakit sendiri
rongga pejalnya.
tulang itu bergerak-gerak pada akhirnya. di depan saya dan menggerakan kacamata saya. saya mengganggap diri seseorang politik, bukan partai. semua bisa berubah, dan tulang itu pun berubah-rubah. memanjang, kuat, dan akhirnya patah. duh, kasihan tulang-tulang yang sedang menari di depan saya itu. dari tanah yang mengeluarkannya kembali untuk sebuah kepentingan yang dasar. kepentingan yang mereka katakan adalah memasuki rumah sakit jiwa, du. itu lucu. hal yang mengerikan yang pernah saya analis di dalam rumah sakit jiwa adalah mereka bisa memilih kegilaan dan menjalani hidup tenang tanpa bekerja. namun tulang-tulang lain yang akhirnya berakhir dipenjara ditimbun oleh pengalaman akan kebencian, ketidak berdayaan total, kekejian itu ribuan kali lebih parah dari rumah sakit jiwa sekalipun.
cuma sedikit aku perhatikan orang-orang
cuma sedikit aku melihat jam-jam di depan-
toko dengan dinding warna warni
kehabisan senyuman.
da da di dudu.... saya menikmati fase ini, menunggu terhubung ke jiwa dunia.
Hari ini sebuah bisu terlatih untuk hadir dalam rinci kehidupan dengan bunyi. Aku dan semua akhirnya jadi kail-kail kembali menuju arus. Sebelum aku berangkat, aku ingin bercerita singkat mengenai air mata yang kujumpai di matamu, yang sedang membaca.
Kita telah terlatih bersikap sebagai vampire yang lama tidak tahan dengan matahari yang sudah sepuh. Tapi matahari itu berasal dari timur, menuju rumah bulan. Di sana kulihat keduanya berpangkuan, satu dan lainnya. Tapi tak berbicara. Seperti aku pada dinding kamarku, pada kubah lail dalam sepertiga malam. Tahmid, dan hamdalah, berdetak di atasnya. Tasbih yang merengkuh tubuh yang hampir piar memohon ampunan.
Di sinilah, di hari ini. Ingin kuajak kalian tersenyum bersama senyumku. Kita ayunkan kebisuan kita dalam tangan yang kuat. Dalam wajah-wajah yang tangguh, setelah sekian waktu berpanggut pada nakal teriknya tragedi. Tidakkah lagi awan itu begitu cantik? Hujan yang kita senangi dalam sendiri. Untuk duduk dan tersenyum menyaksikan banyak burung yang berterbangan menuju hati yang nyaris kesiangan pada kesiap musim yang terbenteng di sekitar bathin kita.
Apa yang kita sembunyikan lama? Luka-luka yang basah tak elak beringsut dari kemasannya. Ibu yang kita rindu, yang menunggu anak-anaknya dengan cerah secercah mutiara doa. Bait-bait getar dalam pendar hidup seorang ayah. Kekasih yang entah di mana, mencuri sebagian bulu-bulu yang mulanya dirajut dalam sebuah potret kenangan. Tapi Tuhan selalu ada esa, menunggu makhluknya dengan sekuel cinta yang tak pernah lekang. Tunggulah aku dan marilah ikut bersamaku, kita susuri jalan-jalan yang dilalui kafilah dengan doa dipundaknya yang aus dan nabi serta sahabat rasul yang tak pernah terdengar bisu dari zaman-zaman kehidupan.
20 April 2012
Jalan masih lenggang, saya merasa menjadi manusia pertama. Tapi yang pertama berarti yang paling tak tahu apa-apa. Kemudian suara itu kian dekat saja, saya tidak mengenal jenis suara apa itu. Sudah saya katakan yang belum tahu cara mengenal.
Saya lihat banyak jalan, belum memiliki rambu-rambu dilarang berhenti. Tapi kaki saya sudah sakit, terus dipaksa melaju diaspal yang warnanya merah. Semerah tanah liat ketika saya berasal dari sana. Disurat tertuliskan saya berasal dari liang kuburan. Ajaibnya saya selamat, karena bantuan Tuhan. Berarti saya kedua dari pertama. Ibu saya Tuhan ya? Saya tidak tahu itu,dan tidak mau tahu. Makanya saya menggantikan belum di sana dengan tidak.
Kasihan kaki dan mata saya. Yang semenjak ada, langsung bisa berdiri dan melihat bahkan membaca ketika saya langsung berdiri. Itu aneh ya? Tapi Tuhan yang Maha Aneh itu, makanya Ia kerap menciptakan yang aneh-aneh.
Di sana saya lihat ada gundukan batu-batu besar. Ada baiknya saya berhenti, dan bagian perut saya terus bergerak meriuk-meriuk. Tanda apa itu? Saya merasa lunglai setelah bertahan dua jam waktu bagian wilayah Tuhan, ibu saya.
Tiba-tiba saya melihat langit bergemuruh. Dan awan kian dekat, lalu menembus tubuh saya. Munculah warna yang lebih terang dari warna yang pernah saya lihat di bumi ini. Ia berkata pada saya "iqralah! Ikhtiarlah! Beribadahlah! Cukupi makan dan minummu! Dan carilah warteg terdekat!" kemudian ia tiba-tiba hilang tanpa jejak seperti saya.
Saya terus bingung memikirkan kata terahirnya 'carilah warteg terdekat!" apa itu warteg dan berada di mana mereka semua?!
Saya lihat banyak jalan, belum memiliki rambu-rambu dilarang berhenti. Tapi kaki saya sudah sakit, terus dipaksa melaju diaspal yang warnanya merah. Semerah tanah liat ketika saya berasal dari sana. Disurat tertuliskan saya berasal dari liang kuburan. Ajaibnya saya selamat, karena bantuan Tuhan. Berarti saya kedua dari pertama. Ibu saya Tuhan ya? Saya tidak tahu itu,dan tidak mau tahu. Makanya saya menggantikan belum di sana dengan tidak.
Kasihan kaki dan mata saya. Yang semenjak ada, langsung bisa berdiri dan melihat bahkan membaca ketika saya langsung berdiri. Itu aneh ya? Tapi Tuhan yang Maha Aneh itu, makanya Ia kerap menciptakan yang aneh-aneh.
Di sana saya lihat ada gundukan batu-batu besar. Ada baiknya saya berhenti, dan bagian perut saya terus bergerak meriuk-meriuk. Tanda apa itu? Saya merasa lunglai setelah bertahan dua jam waktu bagian wilayah Tuhan, ibu saya.
Tiba-tiba saya melihat langit bergemuruh. Dan awan kian dekat, lalu menembus tubuh saya. Munculah warna yang lebih terang dari warna yang pernah saya lihat di bumi ini. Ia berkata pada saya "iqralah! Ikhtiarlah! Beribadahlah! Cukupi makan dan minummu! Dan carilah warteg terdekat!" kemudian ia tiba-tiba hilang tanpa jejak seperti saya.
Saya terus bingung memikirkan kata terahirnya 'carilah warteg terdekat!" apa itu warteg dan berada di mana mereka semua?!
saya heran, bulan. mengapa saya sering tidak sehat, bahkan dalam pengendalian emosi saya, kerap naik-turun. tapi saya sembunyikan saja sendiri. itu bukan prestasi, kata saya. tetapi, saya jadi lebih sering teriak. kata saya, saya ingin belajar mengolah suara agar tidak terlalu pelan. tapi itu berbeda dengan alasan sebenarnya. bulan, mengapa kamu tidak di sini, menjaga saya ketika malam. saya selalu merasakan puyeng, dalam posisi apapun. oh, iya saya juga ingat. tekanan darah saya selalu rendah. tapi semangat saya selalu memuncak, ingin menemui kehidupan baru di luar sana. pelajaran baru. prestasi baru.
siang tadi, saya ditegur oleh seorang wanita, ibu guru. afril, panggilnya. iya, saya di sini bu, jawab saya. sedang apa di sini, tanyanya. sedang menjadi seorang, bu, lagi jawab saya. afril kenapa? lagi tanyanya. saya sedang mencari jawaban dari pertanyaan ibu, mungkin ibu lebih tahu ya tentang saya, kata saya. ibu lebih tahu, afril itu murid ibu yang kuat, katanya dengan mesra, dengan mesra -saya ulangi. bulan, dia itu siapa? malaikatkah yang tiba-tiba menjelma jadi gurukah ia? saya sungkan dengan keadaan yang tidak dapat membuat saya nyaman, makanya kadang saya menghindar dari teman-teman saya, dari kegaduhan belaka. lalu saya katakan sendiri pada diri saya, saya sedang sehat dan saya baik-baik saja.
bulan, saya juga merasa senang. melihat kakak kelas itu, mereka yang berprestasi. saya selalu merasa tertantang. akan tetapi ketika saya sedang berperang dengan tantangan, saya cenderung lebih gelisah. saya selalu menargetkan yang terbaik atau yang lebih baik. tapi, kadang saya mengendap-ngendap dalam usaha. bulan, kamu masih dengar saya kan? saya senang menulis ini. menuliskan kehidupan saya yang tinggal separuh jalan. kamu juga sama dengan saya, suka memilih sendiri. tapi tetap menyala-nyala di mata lainnya. mungkin begitu ya, bulan. saya sendiri ingin tampak bercahaya, bahkan sebelum keadaan saya dipermukaan para pasang mata itu.
saya kira, ini tidak pernah cukup ya bulan. kamu ke sini saja, membaca lanjutan ini ya. saya cukup melihat kamu baik-baik dan bahagia di atas sana, di atas malaikat-malaikat yang memantulkan cahaya.
Lalu laki-laki menyusuri jalan kecil. Oh, Afrilia bukan, tanyanya. Kemudian senyum menyipul dari raut yang sama ingin ikut lebih jauh. Ke atas sana, namun ia berpikir siapa nama itu? Mungkin setelahnya ia tak ingin pergi ke atas melawan hujan. Afrilia, katanya lagi. Ia menghentikan langkah sembari mengarahkan tangan menyentuh jalan yang menuju ke atas.
Kemudian, ia berjalan dengan perlahan. Kali ini, ia berhenti setelah 7 meter kesekian. Kadang, kurasa tak pernah berbeda dalam langkah. Sama dengan hening yang seenyap memangku soal-soal yang kerap terbelah, katanya. Tapi, lanjutnya ini serupa biloks-biloks ingin ditempatkan dan dilengkapi.
Dan bulan seakan turun, kini mengambang dekat terlinganya. Entah hukum gravitasi apa, yang dapat menarik bulan ke selasar ruang yang lebih kedap. Enstein masih memikirkan antara apel dan bulan yang kemudian jatuh menggelinding, di hati yang mendengarnya.
Dan, tinggalah rumus deret yang jadi kunang-kunang di dalam pikiran. Ingatan tentang kesenyapan malam. Saat bulan runtuh lebih awal dan rumus deret membina jalurnya. Tinggalah kedip kunang-kunang memagari bintang-bintang dalam hati yang saling menginginkan.
Sepasang mata yang inginkan terlelap..
Ia-kah Afrilia yang kubaca dari dalam sini?
api terus berkobar membakar tubuhku, anatha. tubuhku akan hangus sama seperti kayu yang telah menjadi abu, karena api. anatha, pergilah dan berlari jangan terlalu dekat dengan denganku. api ini akan mengikuti bathin, dan tangisan adalah bahan bakarnya. jangan menangis, untuk aku. jangan mengurung bulan itu di dekatku. langit tampak padam, dan hanya panas api yang membakar tubuhku juga bulan yang hampir separuh terlahap mulut naga.
anatha, pergilah. jangan berbalik, biarkan api dan tubuhku padam dengan sendirinya. melangkahlah terus, ikuti lampu-lampu di depan sana. tetapi jangan mengikuti lampu palsu yang terlalu menyilaukan sepasang matamu, anatha. ikutilah anak-anak mungil yang sedang bermain, menyebrangi jembatan untuk bertemu dengan kehidupan. jangan katakan, malam telah hilang diporandakan api. jangan katakan api telah membuat rapuh dan mati. jangan, anatha. karena api, aku menyuruhmu pergi untuk mengenal tanah, air, dan udara. supaya kau dapat kembali ke asalmu, tempat tiada yang terbakar dan hangus seperti kayu itu.
"tapi, aku tak dapat pergi. dan karena api, mataku telah terbakar dan tak bisa melihat!"
bukan karena api. bukan. hanya saja kau terlalu dekat dengan api. dan melihat bagaimana rasanya matamu terbakar padahal panasnya bukan api, dan yang membakar bukan api, hanya setelah sentuhnya terjebak dalam ilusi-ilusi yang menakutkan. anatha, api itu membawa malaikat dengan sayap yang ketujuhnya telah terbakar, dan ia tak dapat pulang. tersalib di sini, bersamaku, anatha. bulunya telah hangus juga kulitku. dan jantungku yang kini melolonglolong, dan tanganku yang telah patah masih ingin menuliskan sesuatu sehabis api itu, melahapku.
anatha pergilah
ini malam
sudah larut
dan
malam.
api-api
membakar hati
yang
tak hati-hati
ingatlah, anatha
jangan terbakar
seperti kayu
jangan.
25 Desember 2011
Aku di dalam kelas. Dan terkejut akan kedatangan gie duduk di sampingku. Kukira ia tak akan kembali ke bumi. Ternyata ia tersenyum, dan bukan tak ingin kembali. Hok gie, satu di antara banyak laki-laki yang suka menaiki puncak-puncak gunung. Aku tahu kau telah menjadi abu, gie. Bukan terkubur dalam tanah. satu hari setelahnya, di kala itu, adalah ulang tahunmu. Tapi aku tahu kau telah mengetahui kematian di hari itu, atau kah kita sepakat untuk tidak pernah mengetahui kapan kematian kita itu. Apakah kau sengaja mendekati gas beracun itu? Dan, Di syurgakah kau gie? Gie hanya tersenyum padaku, enggan bersuara, sekali lagi. Laki-laki sederharna ini, memahami yang tertulis, yang kelak akan berangsur kembali atau pergi dan ditinggalkan menuju dunia asingnya. Dengan kepalan kaku di depan dadanya.
kami berada di bawah atap. rumah, dalam KBBI. baunya sudah tak asing, ini tempat lamaku. dan lama juga aku ingin pergi. mencari udara segar, jaja bilang. tapi akhirnya dia datang, dan tak jadi mengajakku jalan-jalan ke arah barat, aku agak kecewa juga dibuatnya. padahal sudah kusodorkan ini kunci mobil, dan ia harus menyupir. ia menggeleng, katanya takut. takut kenapa, tanyaku. takut ada yang marah ditubuhmu, balasnya. lalu kuputuskan untuk pergi turun lalui tangga, dulu saja. iya, kadang rumah ini rumit juga. harus turun naik tangga, sementara nyaris butuh tenaga ekstra bagiku. dan ternyata, aku jadi mudah merasa lelah ya, ja. aku tertawa kecil, dan ja heran melihatku tertawa. apa yang lucu, katanya. semua nampak biasa saja, kan ja, tanyaku, dan aku juga orang biasa-biasa dan ternyata makin lebih biasa. ia bingung, dan mengangkat telunjuknya, menaruh di dada dan berkata, aku juga biasa, af.
setelah di lantai dasar, aku bilang kepadanya. bukakan pintu itu, dan gerbang di luar. aku ingin keluar. jelas bukan dari waktu. hanya keluar dari batas pagar rumah. kulihat ja malah berpikir lama. aku katakan padanya sampai mengangkat alisku tinggi, ja tolong bukakan kamu tak mau menolong berarti kamu menolak syurga. ja tak betah dengan kalimatku itu, dan akhirnya ia mengambil banyak kunci, dan membukanya dengan tergesa-gesa. ja, hidup ini penuh dengan ketergesaan ya, kataku padanya. ja, hari ini kita ke tps yuk, barangkali perhitungan suara tengah di mulai. ja diam lagi. dia itu kek agak lelet, tapi lelet juga rapih orangnya, aku suka orang yang rapih dengan dirinya. tapi rapih pun dapat diartikan dengan macam teori pandang, realatif. tapi aku beralasan pula mengatakan mengapa ia orang yang rapih. ia tak punya poni dan suka memakai celana dan baju. he he, aku tertawa lagi dengannya. saat ia mengatakan, aku sedang berjalan dengan orang aneh dan ngga sepadan denganku. oh, ja yang aneh.
Di dalam hujan, dan dinginnya nyala mata kita. Kau melamarku, dan aku diam. Hilang suaraku. Aku mengetahui, mengapa sepasang bisa menghilangkan kodrat pasang dan menggantinya dengan seorang. Jauh berbeda. Tapi apa itu perbedaan? yang suka kita sebut dengan pelarian kesamaan. Aku juga kau, memilih bersembunyi dalam cerita cinta, karena kita berada di daerah Tuhan yang melimpahkan banyak cinta lainnya. Namun Tuhan pencemburu, maka dari itu kita tak mau membuat Tuhan cemburu, dan mengambil salah satu di antara kita, lebih cepat.
Dalam pernikahan, satu di tambah satu sama dengan satu. Tapi kita berbeda, aku satu, kau satu, dan hasilnya adalah setengah. Setengah lagi kita tabungkan dengan perhitungan, aku ingin kebahagian di salah satu terbesar. Kita mengharapkan dapat saling membahagiakan, aku padamu, juga sebaliknya.
Jari-jarimu yang suka menyela jariku. Aku ingat masa itu, kau memburaikan kelengkapan. Tapi aku tak mendapatkannya. Begitu juga denganmu, aku seperti penyakit yang akan terus merodikan hatimu. Untuk siap khawatir melihatku terjatuh, melihatku di atas ranjang itu, melihatku lemah dan aku dapat keluar kapan pun dari tubuhku sekedar untuk berjalan, melihatmu cemas menungguku terbangun. Apakah kita sanggup?
Di hari itu, aku jadi menjelma sebagai perempuan dewasa. Memilih meninggalkan kedewasaan lain yang telah menunggu. Aku membayangkan, kau membawakanku seorang malaikat kecil sebelum kematian lebih cepat menjemputku. Kau tersenyum begitu cerah, seakan segala cahaya berpindah dan berpangku di wajahmu. Kau membisikan kalimat, yang menahanku pergi. Lebih lama, aku dan kau bercerita tentang cinta yang tak berkesudahan.
Apakah kita dapat bersatu? Di lain dimensi.
terinspirasi dari Frau
Suaraku adalah suara sunyi, tulisanku adalah anak-anak sunyi, ceritaku adalah tentang kesunyian. Dunia kelak membeku, dan tertinggal, dan udara makin jauh. Kita adalah sepasang yang pertama, bercinta dengan kesunyian di luar angkasa. Seperti lagu yang tengah kudengar. Langkah anak-anak yang turun dari rentang waktu, menyerukan kesunyian di sepasang tanganmu yang dingin. Dan dada-dada ingatan penuh dengan retakan, bagaikan air mata yang memenuhi dahaga-dahaga di dasar telaga.
Aku tahu hidup yang sekali. Beragam peran aku jalani, juga mengenai hati-hati yang direnggut setelah ia didekap, dihangatkan, dimanjakan, dan berakhir dengan dingin kembali. Jantung hati yang bermain di tinggi angkasa. Seperti takkan pernah hilang. Kita tak pernah pulang. Bercinta di luar waktu..
Di hari-hari perayaan sejarah, manusia berkumpul. Entah dengan macam apa mereka mengupacarakan kehidupannya. Beberapa bersama pasangan yang pedih sebagian hatinya, yang gembira sebagian hatinya, dan berakhir pada kesakitan yang sama. Dan hari hati kita terus membiru. Dunia tertinggal, kita di luar angkasa. Kau suka berpangku pada benturan cahaya dan membias di lapisan udara.
Tubuh kita berjejal di dua jarak yang saling angkuh. Dan, dunia tertinggal. Kau merekatkan sunyi lain, di mata lain, di hati satu, di jantungku. Di angkasa, pialang dengan nama-nama keraguan bersekat-sekat membentuk awan baru. Dan aku akan hilang, menjadi hujan.
Banyak jalan yang tengah kita lewati. Panjangnya tak berkesudahan, karena nafas adalah yang melajunya. Namun tidak dengan pertemuan dan perpisahaan, kepergian-kepergian yang cacat. Biarkan sejenak aku menuliskan lagi, hangat matahari di matamu. Bila kemarau telah hijau diladang dadaku, dan gugur bulu mata. Apakah aku dapat melupakan tentang alur kesedihan? yang tak sampai jua letaknya pada pemberhentian.
Aku banyak melihat keheningan itu di matamu. Dan keheningan kita dipertemukan akhirnya, pada masing mata yang mulai luyu dan kuyup. Jangankan, ketika bulan berlayar di langit yang gelap. Apakah hati kita sekelam kabut hitam? Apakah kita menangisi perpisahan ini? Akankah aku tak lagi dapat mengulurkan telunjukku, dan berkata akhirnya aku melihat batanghidungmu. Apakah dapat kita secara terang berkata sama? Aku lama menyimpan rindu, dan lagi akan kubungkam kembali.
Tangan kita makin kaku, dan lensa yang kupegam tak lagi dapat memainkan fokus. Buram semua, juga mengenai kacamata kita. Apakah kita dapat melihat? Sayap dipunggungku juga punggungmu berjatuhan, jantungku rubuh, paru-paruku kedap, dan ronggaku telah penuh dengan kain mori. Kain di mana nama kita tertulis dengan malam batik. Kau suka membacaku diam-diam, dibalik kesunyian yang kita miliki. Kita berada dalam cerita sunyi, kataku. Dan kita tak mudah membaca seberapa dalam keheningan hati yang ada pada kita.
Lambat laun, kau akan terbiasa. Dengan terik bulan yang berbeda. Gumpita dingin yang menyusup nada-nada violin yang dulu kita mainkan. Nada itu kini perlahan mengecil, setelah itu melupakan nada-nada sebelumnya. Karena nada baru mulai ditemukan, karena nada lalu telah mati begitu saja. Apakah kita akan seperti nada-nada?
Mudah saja, kau katakan. "Aku meninggalkan cinta untukmu.."
"Aku menanamkan bibit luka yang dalam." Aku memeramkan mata lama.
"Biarkan saja luka itu cinta yang tertunda. Dan akan tumbuhlah lagi ia, hanya tertunda.."
"Semua cinta berakhir menyakitkan. Apakah aku akan lebih merasakan sakit untuk ini?"
"Tidak. Karena aku mencintai kesehatanmu, kebersamaan denganmu, dan apa yang kita katakan bahwa kebahagiaan adalah milik kita."
"Sengajakah Tuhan mempertemukan kita dengan cinta? Dan memisahkan kita dengan luka?" Bibirku makin memayat.
"Kita adalah cerita cinta dalam keabadian. Ia maha pencemburu, dan jika pun cinta telah kita miliki. Apakah kita akan bersedia untuk membuangnya? Apakah kau akan bahagia membuang cintaku ke tempat sampah? Atau ke dalam bait-bait perih dan pedih? Apakah kau akan melenyapkannya, dengan membakar segala kenangan kita? Apakah kau akan diam, dan melupakan waktu yang telah berlalu juga dengan cinta yang kita temui dalam pandangan pertama? Apakah kau inginkan itu?"
Kita akhirnya, tak dapat berpelukan. Menunggu waktu yang hampir setengah jalan. Kita akhirnya, membiarkan tubuh kita sama kedinginan. Dan kita akhirnya, memelihara luka yang sama. Apakah pundakku akan kehilangan jarimu? Dan telingaku akan semakin kesepian ditinggalkan sapamu, dan mataku akan makin kering kehilangan air matanya. Apakah juga denganmu? Begitukah kita membiarkan luka selamanya menyakiti bathin kita. Bisa saja, hatiku dan hatimu memberontak. Bahwa yang sudah satu tak lagi dapat pindah ke lain cabang yang berbeda.
Kau menyeka kesekian lagi, air mata yang kubiarkan ia mengalir.
malam akan lebih berat, jauh sebelum aku terka kembali statistika, datum-datum, antara integral dan defisi, dan lain hal mengenai kuantitatif. dan kuposisikan lagi jariku, di sini. melupakan kecacattanku di kanal itu. dan dengan lembut, aku menjauh memilih menempatkan tubuh disatu kursi. menutup kamar, kemudian berjalan menuju sisi duniaku.
begitu yang kerap aku lagukan, denganmu. karena aku suka menguntai rambutmu, yang kubayangkan dapat dikepang dua. melihatmu tersenyum dalam sipuan karena wajah kita hendak bertemu. lama kita tak tertidur, begitu bentuk matamu, dan mataku. agak sedikit pucat, karena kurang larut malam untuk kembali mengelabui tugas-tugas retorika.
dulu, aku keras melarangmu untuk terus menuliskan kebohongan. memiliki bulan dekat di samping, memonopolikan banyak cahaya bintang hanya untuk bertahan dalam sebotol kecil bekas susu sapi. kerap kita katakan, inilah hidup yang tak sepaham, antara aku dan kamu. kau suka menulis, aku suka menulis. yang membuat berbeda adalah pertanyaan, 'ada apa?'. dan raut kita mencemaskan sesuatu, begitu dahsyat ia memetakkan kecurigaan. tubuhku lalu bergetar, menyerukan lagi sama denganmu, 'ada apa?' tapi sejujurnya, kita tak mendapatkan apa yang kita apakan jauh sebelumnya.
seringkali, aku merasa senang melihatmu berdiri menemuiku. sambil berseru memanggil sebuah nama dari keheningan yang jauh dan tertancap di lubuk. kau tersenyum, aku juga. tapi kita seakan enggan lama bersamaan untuk sebuah perjumpaan yang melibatkan antar ruang dan waktu. kita tak pernah bersentuhan dalam pengalaman. lalu kita menuliskan..
akan kebohongan apa kembali yang kita gunakan? hujatan angin, keras menamparkan segala letih yang bertumpu dan mengumpul di bathin, apa yang kita bagi? selain, menuliskan hal-hal yang berkaitan. yang akan membuat diri makin memikul lara. bukan itu, kekasihku yang baik. tunjukkanlah jalan lain, dan laranglah aku untuk terus menuliskan ini. sebenarnya aku benci puisi, sekali lagi. tapi puisi selalu menghemat kataku, menghemat apa yang ingin kuhirup dari dan untuknya. tolong, lepaskanlah tali yang erat mengikat tubuhku ini..
semua kering apa adanya. dan daun yang jatuh karena ia gugur memilih melepaskan diri dari tangkai. seolah aku jadi daun itu yang memilih pergi untuk suatu yang lebih baik, atau tangkai yang rela melepaskan kepergiannya dengan suatu yang bertolak. bahwa tangkai sejati akan terus menanamkan daun hijau dan segar.
Jika boleh aku ingin mundur saja, langit tak begitu lepas menerimaku.
Di tempat yang berusia dua ribu tahun sekian ini, ruang tunggu begitu sepi. Bangunan tua, jarang di jamah. Kadang kukira, bangunan yang sedang aku perhatikan lama, seperti aku. Banyak bagian yang telah rapuh dan lapuk karena dilahap waktu, dihantam berbagai musim dan angin yang bergiliran. Cat yang pudar, tak jelas apakah dinding-dinding itu pernah dicat oleh warna hijau, atau warna kayutua. Ada sekitar lima pohon besar di halamannya, satu bringin, dua cemara, dan sisanya ingin kusebut, itu pohon yang kesepian. Oleh jaraknya terlalu jauh, membelah halaman utama, dan halaman belakang.
Ada menara, kulihat. Aku temukan setelah berjalan-jalan kurang dari 10 menit mengelilinginya. Di depannya, ada papan dengan tulisan “Jangan mendekat!”. Aku kira itu iseng kerjaan anak muda. Maka kudekati menara itu. Menara yang berada amat tersembunyi dari sudut depan rumah, memang tidak terlalu tinggi, namun melebihi tinggi tubuhku dua kali lebih tinggi. Aku dekati ia, ia seperti lapar, dan ingin di temani. Lapar oleh nyanyian yang dinamakan kehidupan yang menghawatirkan. Lalu kudekati ia, semakin ia kudekati. Semakin aku melihatnya menjauh.
Kenapa, kataku. Kamu sama sepertiku. Menara dan manusia yang seperti menara. Tapi menara itu diam saja, dan matahari makin padam menuju barat. Sementara aku menuju selatan, ingin masuk ke menara tua itu. Dengan bata-bata merah yang tersusun rapih, menimbulkan tekstur antik. Langit makin heran, kata menara mulai berbicara padaku. Aku diam dulu sejenak, dalam hati aku berkata; akhirnya menara ini mau berteman denganku, dan mengajarkan bahasa ajaibnya. Mengapa heran, apa yang lebih keherenan dibandingkan dengan kita, kataku lagi bertanya. Menara itu seolah makin tinggi, aku diam di tempat menyaksikan pertumbuhannya. Semakin tinggi aku semakin heran, begitu juga langit, katanya padaku. Ah, langit. Oh, tinggi. Heran karena tak ada tangga, atau heran karena nyanyian tidur manusia yang membingungkan oleh keonaran di indrawi dirinya.
Hari ini, hari fitri. Kebanyakan tradisi di negeri ini, identik dengan mengenakan segala yang baru. Baju baru, mobil baru, cat rumah baru, istri baru, suami baru, kepura-puraan baru pula. Ah tidak hanya itu, katanya. Manusia modern telah membuat tuhan baru dalam dirinya. Aku kaget, ia berkata demikian. Agama baru, katanya tadi. Aduh, kasihan jika begitu. Makin luruslah jalan kesesatan, mudah ditemukan. Apa karena kebebasan? Aduh, negarawan, negarawati ini ya. Dunia adalah taman, pagarnya adalah penguasa atau seorang kaisar, atau juga yang dikenal presiden di negara ini, penguasa didukung oleh tentara, tentara dipertahankan dengan uang, uang diperoleh dari subjek pajak, subjek pajak dilindungi oleh pengadikan dan keadilan dijaga oleh penguasa. Satu-satunya faktor penyatu adalah legitimasi islam sang khalifah. Maka penguasa harusnya memimpin, dengan hikmah tertinggi. Martabat manusia yang dijunjung tinggi, kerakyatan yang bersama saling merangkul suatu kehormatan kesejahteraan.
Kant pernah berkata; di mana pun, di alam ini tidak akan di temukannya kebahagiaan. Yang ada kita memenangkan kehormatan untuk berbahagia. Kurang lebih begitu, katanya. Apa kamu sudah banyak menanggung bahagia, atau derita, tanyaku pada menara tua itu. Aku tidak keduanya, aku hanya menara, menara beda dengan manusia. Manusia dapat memilih di antaranya, atau pura-pura menghilangkan pilihan. Aku makin ingin menyentuh menara tua itu, mengusap dindingnya. Tapi ada kabel di sana, kabel kawat beraliran listrik. Aku tersengat, maka kurasa kawat itu beraliran listrik maka ada papan bertulis “mendekatlah.”
: my dad
bukan dari balik kota tua ini. aku melihat wajah tuhan begitu dekat memanggilku ke arah sana. ke arah yang berlawanan dengan kakiku yang sedang melangkah ingin ke kolam taman, ayah. menemui ikan-ikan kembali. namun, tangan-tangan yang sunyi terus saja berjalan membopong tubuh anak perempuanmu. melewati kolam taman itu. aku juga berjalan begitu jauhnya, lama di jalan. dan tak tahu lagi ke mana aku harus pulang. ke mana aku harus menemuimu? tapi inilah sunyi yang diam-diam menemui jiwa-jiwa yang senang mengintip di samping jendela sore, aku memimpikan kita bahagia bersama seperti dulu. dengan sepasang matamu dan ibu yang sedang terpejam sambil tersenyum mesra.
aku ingin masuk. mungkin aku bisa, dan mungkin ia tidak akan marah mengetahui aku berada di sana, dekat-dekat dengan sunyi dalam pembaringan. aku berpikir kembali, dari jendela minim sini saja. tapi itu senyuman pasi, aku melihatnya terpaksa tersenyum. itu airmata kubilang, tapi tidak ada yang tahu. hanya aku. dan ayah yang pura-pura tidak pernah menangis dihadapan putrinya.
aku bilang padanya, jangan marah jika aku menahan diri lagi di jendela kecil depan pintu. tanganku sudah basah dan lebih tahu di mana mulai percakapan itu terperangkap. aku baik-baik saja dengan begitu, sugestiku seperti itu. saban lama, aku memikirkanmu, ayah. berusaha beranggapan kau baik-baik saja, dan sedang tersenyum menunggu kepulanganku. tapi itu tidak bisa, aku tidak bisa berkata demikian. mengatakan bahwa aku telah berbohong pada wolfgang. padahal aku masih ingin memaikan tuts piano untukmu.
lama aku di sini, menjelma jadi patung yang tidak dapat berdiri. seperti patung biasa yang kaku dan tak dapat bergerak. hanya jadi bisu. aku harap ayah tidak begitu, kita tidak terlahir untuk menjadi bisu. hanya saja kita saling tahu cahaya bersimpangan di dalam katup mulut yang kita kunci.
aku ingin menemuimu, kita bersama seperti waktu-waktu dulu.
love you, Dad...
15 April 2012
14.21 WIB
Af-
SENDIRIAN
kehidupan berpindah dari keberadaanmu.
angin kudus yang melipat dua wajah berbeda.
menapikkan sayap burung yang ingin pulang
kembali ke pohon tinggi. menunggu telur
.. menetas
tempatkanlah lama cahaya yang membisik-
penuh mesra menusuk mataku.
agar kursi di hadapan tubuhku
...tak lagi kosong
mendiamkan luka yang tak bicara.
2012
HUJAN TUA
cukup lama hujan mengguyur tubuh kita
di atas trotoar jalan ditemani PKL.
di balik hujan ada gelaga yang menjuntai
mata seseorang yang suka memandang
... penuh helam.
sering kulakukan tangan kaku tuk menulis
tergelak dan nyaris patah di atas kertas.
setiap hujan tangan terbiasa memanjat
ingin menyentuh kebersamaan -
... hujan tua yang belum menutup.
2012
ORANG DENGAN KOLOR SAJA
cuma sedikit aku perhatikan orang-orang
cuma sedikit aku melihat jam-jam di depan-
toko dengan dinding warna warni
kehabisan senyuman.
kemarin sore, satu orang itu mencuri mataku.
rambut hitam yang sedikit panjang menutupi pundak
dan nafas-nafas kata yang amat lama lesap
seperti asap rokok menuju hutan, menuju pemakam
menuju tempat ibadah dengan air mata kerasa.
kolor itu dari rumah sakit seberang jalan alun-alun
ada nama rumah sakit, dan tulisan
"hati-hati orang berbahaya, mudah terjatuh!"
2012
PUISI MISTIS
sudah kubaca buku puisimu, Man.
shaf kata dari tangga takdir manusia.
sebait saja puisi yang nyaris mati
seakan meluapkan air yang jatuh
dari langit suci tingkat tujuh.
di dalam bunyi dan arti sunyi
yang memanaskan ujung penamu
yang melukai tubuhmu
karena darah itu lama beku di sana
menggumpal-gumpal
hampir membentuk janin.
dan halaman penuh
yang piatu
ke entah yang semula.
2012
PENUNGGU
sebelum magrib tiba dengan malaikat yang berdampingan.
kudesirkan sesuatu bagai pasir kering yang menunggu
lama menikmati gersang. karena kekecewaan terlahir.
mengapa tak urung di sini?
memapah langkahku
agar aku bisa berjalan
dan pulang ke alamatku.
mengapa ada noda dalam janji kita?
yang melarang lama, aku!
sebagai penunggu dari senyap abadi.
2012
CERITA LAMA
langkah yang tertera, dan bau hujan yang belum selesai. Meliput banyak keranda yang menuju tanah tua pada kemuning senja yang bersilangan di kolom-kolom koran kadaluarsa. Lama aku berpura, seolah tak menunggu siapa pun dalam kebisikan plaza ini. Mulutku memang bertahan menulis dan menggambarkan anak-anak yang lama kelaparan karena tidak dapat makan.
Tidak perlu aku banyak bertanya, mengapa lagi kau tak datang, lantas sore ini jadi amat dingin. Meski jam-jamku telah terbubuh di mari, di antara ramai manusia yang asyik bersenggama dalam peram fatamorgana. Dua gelas melon, telah habis karena haus. Menunggumu dalam mimpi-mimpi yang renta. Kesendirianlah adalah kenyataan karib dalam masa setengah masa. Kau telah paham, aku tak suka pura-pura jadi kebisuan. Ya, kau menuliskan janji di atas tissue "aku menunggumu di gedung no. 101 pinggir pasar lama.".Di tempat paling terasa sunyi dan asing. Lantas tissue itu warnanya jadi tak polos putihnya, ada darahku di sana juga, ketika aku tunggu kau datang menolongku. Mengajakku duduk, di sebuah kelas. Mengajarkan inilah kehidupan, sebelum inilah keberakhiran.
Lama aku berjalan sempoyongan, seakan melayang diantarkan udara. Jalan-jalan mulai tak rata. Dan bagian tubuh lainku lama tertinggal di tengah masa silam, sesaat dua gelas melon tak tersisa, hanya gelas dengan darah bertuah.
terima kasih,
kau membuatku 3 jam terasa sia-sia.
2012
Melangkahi jembatan pada malam-malam yang akan sirnah kemudian, dan berganti pada lain malam. Kau di mana sosok ribuan kecil titik cahaya yang mengapit lentera di ujung gulita? Pernah kita habiskan malam, berdua dipinggir pemakaman. Memikirkan masa depan, dan di mana kelak kita akan berada. Suwung bunyi seruling itu terdengar lagi,permainan hatimu dengan sentuhan nafas yang melalui lubang dan celah-celah. Nada-nada kecil yang kau mainkan di mataku, berloncatan bagai ikan kecil yang berkeciplak penuh semangat.
Jalan-jalan di dalam kamarku penuh dengan putaran dan belokkan serta gang-gang kecil. Tapi lampu-lampu yang berbeda seolah kutemui sama, hanya ada satu jenis cahaya yang beku di dalam kantung hati kecilku. Bulan yang hadir kerap membisikan suatu hening yang cerah di tengah gempita dingin dilindungkan oleh angin yang suka menusuk arah. Malam ini, aku di sini. Aku tumbuh dengan sunyi, tapi tak mau mati dalam sepi. Api-api kecil yang kerap kulihat di dalam hari ketika ada beberapa kembang api yang berwarna-warni, menyala-nyala seakan itu matamu. Dalam perayaan hari raya hapalan, hari raya ketegaran, hari raya kesunyataan.
Aku tuju beberapa mimpi di langit luas sana, altar pernikahan antara malaikat di atas awan-awan. Kita pernah sempat bersua tepat saat malaikat mengetahui ada cinta yang baru kita petik dari langit, negeri pada malaikat dengan sejuta indah yang bertasbih. Keheningan ini, umpama jambu yang telah merah dan harum baunya. Tapi ia tak pernah membusuk, karena kita sebut itu yang abadi kedua dalam hidup yang tengah menari-nari dan melangkah untuk berlari dilalu waktu.
Malam ini, aku merindukanmu juga. Duduk dengan sunyi yang kita miliki bersama.
Bissmilahirrahmanirrahim..
"Aku tahu rizkiku tidak dimakan orang lain, karenanya hatiku tenang. Aku tahu amalan-amalanku tidak mungkin dilakukan orang lain, maka aku sibukkan diriku dengan beramal. Aku tahu Allah selalu melihatku,karenanya aku malu bila Allah mendapatiku melakukan maksiat. Aku tahu kematian menantiku, maka aku persiapkan bekal tuk berjumpa dengan Rabb-ku." (Hasan Al-Basri)
khaifahalluk, Akhi? Jagalah diri Akhi untuk Ana.
Perlahan waktu menuturkan kisah-kisah tertentu. Tak selalu tentang kesibukan, dan cara menjawab pertanyaan. Tapi Ana bahagia, Akhi. Bahkan sebelum Ana percaya akan kehadiran cinta yang suci, dari-Nya, Akhi. Secara perlahan, Ana menemukan potongan-potongan makna kehidupan ini.
Aku tak dapat menerka usia hujan, yang jatuh begitu saja. Air yang jatuh ke bumi, yang selalu terlihat pucat dan pasi. Kadang dingin yang ditawarkannya tak pernah dapat hilang lebih cepat dari senyap yang berkelindaan, mungkin bunyi deras yang memecah keheningan, sejengkal dari kebisuan. Kadang, aku berpikir, mengapa ia harus turun? Di sini sudah banyak air yang kadang tak terbendung karena kedatangannya, tapi ia kembali juga ke atas pada akhirnya dengan cara yang berbeda. Udara yang bergerak hanya mengikuti jalur-jalur yang sudah ditandai oleh malaikat itu, pengatur cuaca, pembawa berita. Aku jadi ingat pada musim hujan itu, bertahun silam. sore sepulang jam pelajaran. Aku mempelajari bagaimana tubuh yang kuyup ditimpa hujan sepanjang jalan. Dingin, memang. Tapi aku tetap ingin pulang dengan keras. Sementara aku membiarkan tubuh mati, sebelum itu.
Reeeesssssss… begitu air itu banyak menimpa jalanan tanpa atap, dan menusuki orang-orang tanpa payung. Hanya teriakan dingin dari dalam diri. Aku merasakan tuhan sedang iseng bermain-main air, mungkin begitu dalam pikirku. Sesekali tuhan mengajak yang tua kembali muda, atau langsung pada kanak. Masa kanak-kanak yang cepat, juga muda menuju tua yang ekspres, lalu berakhir pada kematian. Hidup itu mudah, katanya. Kita hanya menunggu dan bertahan dengan pola kewajaran. Pola air yang kadang tergelincir dari matahari, karena menangis, sebab sendiri.
Kelak hendaklah sepasang sayap malaikat itu akan jatuh, mungkin dalam ghaib yang tak dapat terlihat mudah dari mata biasa. Malaikat juga suka air. Untuk membasuh sayap-sayapnya yang kusut setelah berada di bumi dengan lama, dan inginkan kembali ke langit. Tapi hujan belumlah sempurna surut.
