JALAN KELUAR
Afrilia Utami
Satu serdadu tengah menaati darah -
Bangsanya sendiri. Dengan kaki
Tangan dan jari yang terikat
dengan gergaji.
Bangsanya sendiri. Dengan kaki
Tangan dan jari yang terikat
dengan gergaji.
Di musim pra-pilkada
Presiden sudah sibuk roadshow
menaiki penumpang dan kursi viral
Kelas ekonomi bersaku eksekutif.
Membagikan foto dirinya di sertifikat
Tanah yang milik bangsanya sendiri.
Membukakan banyak pintu abu
Bagi bangsa asing tenaga kasar
Dengan tawaran investor barbar
Presiden sudah sibuk roadshow
menaiki penumpang dan kursi viral
Kelas ekonomi bersaku eksekutif.
Membagikan foto dirinya di sertifikat
Tanah yang milik bangsanya sendiri.
Membukakan banyak pintu abu
Bagi bangsa asing tenaga kasar
Dengan tawaran investor barbar
Alih-alih senja mengambil belahannya
Bersembunyi dibalik payudara masa kini
Dan petugas media menjaga etika polemik.
Negara masih berkembang dengan romantis
Dan angka-angka pembangunan insfrastuktur
Guling bantal prestasi di atas kasur.
Bersembunyi dibalik payudara masa kini
Dan petugas media menjaga etika polemik.
Negara masih berkembang dengan romantis
Dan angka-angka pembangunan insfrastuktur
Guling bantal prestasi di atas kasur.
Sekali lagi,
Satu serdadu dilema bagaimana melanjutkan
Ketaatan pada perintah dan rasa kepemilikan.
Satu serdadu dilema bagaimana melanjutkan
Ketaatan pada perintah dan rasa kepemilikan.
Tasikmalaya
NEGERI MANUSIA
Afrilia Utami
Biar aku mendaki
seperti hujan tahun lalu
mengembun dalam genggaman peri
jatuh cinta pada sekat dimensi
muara hilir penciptaan dilaksanakan.
angin yang mengolah udara
menari manja seperti kau, berdua
bersama denganku.
meski dalam perang sekalipun,
cinta menolak mati dalam dendam.
waktu begitu minimalis
senyuman tipis yang hilang
di dalam ruang itu
teralis membatasi antara kaca
dan lensa mata.
antara hamba dan tuhannya.
apa itu peradaban manusia, Sayangku?
kita habis untuk menulis -
banyak tragedi ke dalam penggadaian.
melawan kebiadaban para pelupa.
biar aku pelan mendakimu..
pelan tapi menujumu
pelan dengan pembakaran usia
yang dikupas dari kulit ari terluar
yang terperangkap dalam barak
dikeliling para serdadu dari balik batu biru
engkau itu aku jaga dari panasnya rindu.
Taksi biru telah menunggu..
di luar hujan mulai merembes ke dalam dada.
Sayangku, ingatlah ini dalam keabadianmu..
cinta, yang menamai kita berdua.
---------------
diketik tanggal 24 Agustus 2014
pada saat penulis menyadari, hatinya ingin bicara ke rahasia langit.
SENYUMAN HUJAN PADAKU
aku selalu tahu apa yang akan kau lakukan
jika hujan mulai deras, kita memecahkan kenangan
di dalam genangan air yang kotor dan penuh kuman
aku taruh senyummu di sana, di awan yang abu tua
aku simpulkan senyummu di situ juga.
bahkan, aku hanya melihat senyummu saja
antara peristiwa yang kita ketahui,
selalu berakhir memilukan.
jika kita tua nanti, kau akan memilih hidup di mana?
aku biasa hidup dengan puisi, juga sendiri menulisi dahiku.
kau jadi bayang-bayang yang kerap menempel kubentuk.
diam-diam aku meniru senyuman manusia, dan pergi-
tiba-tiba membawa sekardus catatan kumpulan harapan manusia.
apakah nanti, aku bisa tua juga sama sepertimu?
menceritakan sejarah masa muda kita yang begitu curang
dan lucu, senang hujan-hujanan sampai demam satu bulan.
tapi kita membayangkan senyuman Tuhan yang begitu indah.
senyuman Tuhan yang dipasang di dada dengan lapang.
kau yang menarik hati mudaku.
aku akan menemukanmu kelak
sealbum senyuman yang aku kumpulkan
kita tak memerlukan katalis untuk mempercepat segmen hujan
yang kita jadikan lukisan air dengan figura keajaiban.
jika kelak aku pergi tiba-tiba, sama seperti kelahiran dan
kematian.
aku ingin kamu menyimpan senyuman yang sudah sejak lama
aku kumpulkan untuk menciptakan keajaiban..
24 Januari 2013
TENTANG KESATUAN, ADANYA CINTA
Aku ingin bicara tentang cinta dan kesatuannya.
Atas cakra senja yang makin menari-nari di atas gelaga
mungkin ada sipit matamu yang manja mengatur cuaca
agar orang-orang tidak bangun dari peperangan
agar bangsa ini tahu, kita berdua lahir untuk saling mencinta
dan untuk tak membabi buta pada sunyi yang menyelusup
nadi dan titik hati yang paling suci Tuhan kirimi
saat aku menulisi cinta untuk seorang manusia puisi.
Aku ingin bicara tentang cinta dan segalanya.
Kepadamu yang sering menuturkan keinginan dan mimpi-
mimpi tentang bau sorga yang tak satu pun setan ada di sana.
Tuhan tak jemu menanam rasa dan warna dipangkuan matamu
yang menjaga doa dengan segumpal hangat
dengan setipis dingin yang paling amis.
Aku ingin bicara tentangmu..
Paling sederharna menangkap gelembung hidup
di tengah se-bar senyuman yang indah dan semanis coklat
sambil menimang-nimang bau trotoar yang dipenuhi plakat-
rindu dengan bibir yang ingin diciumi seorang biksu.
Aku ingin kita bersatu dan kita bersama
kau dan aku dan seikat bunga awan
dengan cinta yang dijadikan nama
atas demokratisasi paling misteri
dengan kesatuan yang menawan
dengan segalanya tentangmu..
tentang hati, rencana, dan tata pelaksanaan dari Yang Memiliki.
Diam-diam aku meniru merah aspal
yang sering dijejali roda-roda di jalan
di jalan kasih dan sayang
hanya menuju satu arah
pulang pada setumpuk tubuhmu yang utuh
pada kenangan luka dan ketegaran yang menguatkan..
2013
Sampai pada saatnya
Semua menjelang pada semula
Matahari yang tinggal separuh tanggal
Aku membuat cerita ini makin kenal
Sedih, suka, tapi duka dan luka lagi
Tapi gembira lagi, tapi kau lagi.
Apa yang kau ingini selain puisi? Ditahunnya gestafu.
Selain langkah raksaksa yang paling jahat
Dan paling pendendam munggulung-gulung
Galah rambutmu yang aus.
Ada dua tangan melingkari perut seorang.
Ia bercerita, tangannya dulu pernah ditanam
Akhirnya diburu tegar, dihidupi penilang
Rasa cacian, rasa-rasa makian, yang makin-
Bertuan di meja hijau, kursi pemahat galau,
Dan sepatu kuda yang tipis-tipis dan bau amis.
Rasanya cepat sekali,
Aku mampu menghitung ubanmu tumbuh
Satu-satu. Ubanku juga melambaikan putihnya.
Kita akhirnya saling menghitung ada berapa uban
Di kepala yang namanya hidup, yang namanya mimpi
Yang namanya panggung aksi.
Aku suka melihat bundaran bumi
Alangkah kecil dari bola matamu
Dan ia membuncah memasuki dada-
Dada kita yang pejal.
Ya, tentang raksaksa pedendam itu telah membawa lari,
Lusa kemarin, dan di hari ini.
Tepat satu hari, titimangsa hidup kita
Dalam jilid baru.
2013
AKU INGIN MENULIS
Aku ingin menulis hal-hal indah denganmu
dan melupakan semua penyakit yang bersarang dalam waktu.
Kau yang tegar, menunggui aku hidup menanggung mimpi dan caci
Angin berintegral lewati masa-masa nurani tumbuh di dalamnya.
Kita memiliki segudang perbedaan dan sekamar persamaan
Ada Tuhan dalam dada kita yang membuat pilihan untuk hidup
Langit luas yang cantik, di sanalah telapak tangan suka bermain
Harga yang hanya dibayar oleh senyuman dan air mata.
Hal sederharna melengkapi undangan dari rindunya rasa syukur
Tapi tidak ada apa-apa selain sambutan dalam lipatan kertas-
isinya pertanyaan, "Apakah Tuhan benar-benar menakdirkan-
kita bersama?" Pesan manusia, sumpah jawablah!
Tapi aku telah bertawakal jika di antara kita akan pergi
Manusia memiliki sejumput pilihan, bagian termanis dan tragis
biasanya Tuhan yang menentukan.
Kau yang mengajariku untuk tertawa sambil menjilat gula
Aku yang membuatmu sering berduka karena ceritaku -
tak indah-indah ditengahnya. Jika nanti, kita menuju mati
Aku ingin hidup kembali, sepasang denganmu.
Ibu mengajariku untuk tegar hidup setelah keluar dari rahimnya
Sementara pohon yang tumbuh tinggi tak pernah kembali ke akar
Jika bukan kita yang memilih jalan keluar paling menyeramkan
: Ditebang kenyataan.
26 Januari 2013
AKU SAYANG IBU
Ibu suka memintaku agar jadi anak sholeh
Kenal dengan Tuhan dan segala kebaikan
Pelajaran suci yang aktif mesti diaplikasikan-
pada perbatasan kehidupan manusia yang punya akal.
Itu permintaan ibuku yang paling sering diulangi
Setelah permintaan lain-lainnya lagi.
Aku hanya ingin ibu bahagia
Biar deram tangisku ketika meminta asi
timang-timang lagu yang terlahir dalam hati induk-
yang mengalun agar aku bisa punya mimpi di masa depan.
Aku ingin ibu hidup lebih lama dariku
Biar aku tak pernah merasa menderita
Makin ditinggal pergi oleh orang yang punya kasih dan cinta.
Tujuh bulan yang berhenti di April karena banjir pendarahan
Aku selamat, tapi meninggalkan jahitan panjang bekas salju mencair.
Kata paman aku anak mahal yang paling tegar bertahan untuk hidup
Sering kudengar ibu suka bersedih ketika aku dipaksa tinggal di Rumah Sakit.
Lalu..
Ibu suka senyum, melihat aku akhirnya dapat melanjutkan keinginan buah visi
: Permintaan ibuku.
Aku sayang ibu
Aku belajar pengorbanan karena cinta.
Aku menemui hidup
Setelah setengah nafasnya hampir tercekik di hisap jibril.
Aku bahagia telah merasai kelahiran
Tapi jika bukan karena ibu
Aku tak mau hidup sampai mengenal tua.
26 Januari 2013
TUBUH YANG BAU ANGIN, DEL
tubuh kita yang muda menjadi panglima bumi biru
aku dan kamu berperang di jalanan yang putus
tidak ada pilihan lain selain dua
satu menjalankan peran pedih demi kesuksesan bersama
dua memilih terus merodikan raga melawan kepedihan
untuk bahagia, kita tinggal memilih yang sederharna
berawal dari mimpi-mimpi yang menyala di atasnya langit
badan kita sudah bau angin, kawanku
berasa-rasa aku sudah jadi tukang angin denganmu
mengembara ke ceruk terpadat dengan ujung menajam.
ya, aku mengajakmu bekerja dengan multinasional
meski dalam tiap cangkir yang terangkat ada gambar tongkat ular
bathin kita proyeksi astral, orang jauh menyebutnya demikian.
aku benar-benar merasakan kebutuhan untuk menulis
sebab hanya satu-satunya cara berbagi cinta personal
menuliskan hujan dengan dilembah angin
kadang, kita perlu berhubungan dengan pusat energi
mengkolektifkan bagaimana rasa duka dan cinta
dapat berjalan sepadan, memipikannya seumur hidup..
mengenai hal sederharna dalam kerja keras kita, del
untuk hidup damai dipertiwi yang kita cintai secara multidimensional.
badan kita yang sudah bau angin, tersandung-sandung tangan jahil
agar kita dapat setegar angin baik yang terus mengembara
membagi bahagia di seluruh penjuru dunia..
22 Desember 2012
AYUNAN INI MILIKMU
Oleh Afrilia Utami
Oleh Afrilia Utami
Kita telah lalui hidup ini
berdua dan sederharna menyusun mimpi
mengundang imajinasi dan skripsi para eksil.
Bagaimana jika aku hidup dalam serangkum tragedi
akan menangiskah engkau di sana, Kekasihku?
berdua dan sederharna menyusun mimpi
mengundang imajinasi dan skripsi para eksil.
Bagaimana jika aku hidup dalam serangkum tragedi
akan menangiskah engkau di sana, Kekasihku?
Suara plesit seorang polisi dan guru agama
yang pernah mengoyakkan kota kita di tahun '96
memberikan tanda di mata para tionghoa
meneruskan jalannya di sangkala merah-putih.
yang pernah mengoyakkan kota kita di tahun '96
memberikan tanda di mata para tionghoa
meneruskan jalannya di sangkala merah-putih.
Kita tak terlambat menanam sukma
yang dibungkus hati para pendatang.
yang dibungkus hati para pendatang.
Jangan salahkan awan yang selalu memaduku
untuk melihatmu di kejauhan sana
di tinggi yang membedah sekujur rindu.
untuk melihatmu di kejauhan sana
di tinggi yang membedah sekujur rindu.
Kau menyukai sepasang anak kucing yang damai.
Sama sepertiku dan rasa suka kita juga sama
sepasang kucing yang kita sukai sedang merajut kisah
berduaan mengelilingi jalan-jalan yang pasrah
di masa pertempuran politik berguncang di nada minor
sambil bergantiaan, duduk di atas ayunan waktu.
Sama sepertiku dan rasa suka kita juga sama
sepasang kucing yang kita sukai sedang merajut kisah
berduaan mengelilingi jalan-jalan yang pasrah
di masa pertempuran politik berguncang di nada minor
sambil bergantiaan, duduk di atas ayunan waktu.
Dan tanah bergetar, gedung dan gapura yang retak
tapi dada kita paling kekar memilih hidup sepetak.
selama kita punya sepi banyak sinar yang berguguran
entah apa yang memanggilnya turun ke samping-
pipimu yang semanis dan segempal madu.
tapi dada kita paling kekar memilih hidup sepetak.
selama kita punya sepi banyak sinar yang berguguran
entah apa yang memanggilnya turun ke samping-
pipimu yang semanis dan segempal madu.
Aku akan pergi ke tanah, Prajurit mudaku..
jangan tinggalkan air mata kering diplafon yang papa-
dengan api yang membakar kursi para fraksi yang dikasihani.
jangan tinggalkan air mata kering diplafon yang papa-
dengan api yang membakar kursi para fraksi yang dikasihani.
Kita akan mati, lalu menjadi unsur baru di tanah.
Sebelum aku mati, mati lebih dulu membisikkan inilah sejarahku.
Aku telah bahagia mengenang cinta sebagai manusia.
Aku telah lahir bersama cerita dan puisi di tanahku, Indonesia.
Sebelum aku mati, mati lebih dulu membisikkan inilah sejarahku.
Aku telah bahagia mengenang cinta sebagai manusia.
Aku telah lahir bersama cerita dan puisi di tanahku, Indonesia.
Ya, ayunan ini kini milikmu..
Aku taruh senyum dan namaku yang mungkin akan kau ingat lagi
meski hanya sesekali, mungkin berkali-kali.
Aku taruh senyum dan namaku yang mungkin akan kau ingat lagi
meski hanya sesekali, mungkin berkali-kali.
23 Februari 2013
MATI
oleh Afrilia Utami
oleh Afrilia Utami
Kematian selalu setia menemani kehidupan
aku melihat banyak orang menampakkan peran-
peran di atas operet-operet berlendir berwarna merah.
aku melihat banyak orang menampakkan peran-
peran di atas operet-operet berlendir berwarna merah.
Tuhan, kapan aku sampai pada-Mu?
Betapa takut aku dengar kematian dikibarkan dalam kabar.
Manusia memiliki hati untuk mengenal, hati memiliki air mata.
Aku selalu ingin kita ditempatkan jauh dari cerita sedih..
Betapa takut aku dengar kematian dikibarkan dalam kabar.
Manusia memiliki hati untuk mengenal, hati memiliki air mata.
Aku selalu ingin kita ditempatkan jauh dari cerita sedih..
Kematian selalu setia menemani kehidupan
aku melihat hidup yang sementara ini makin menyempit
aku menemukan cinta yang nanap, luka di matamu-
menggoreskan tinta dalam aortaku.
aku melihat hidup yang sementara ini makin menyempit
aku menemukan cinta yang nanap, luka di matamu-
menggoreskan tinta dalam aortaku.
Aku ingin berlari, tak mendengar kabar mati lagi.
Menyusuri tangga-tangga kecil dalam pikiranmu
Ada anak-anak dalam diriku yang terus bersabar-
menciptakan lagu-lagu baru menjelang hidupnya.
Menyusuri tangga-tangga kecil dalam pikiranmu
Ada anak-anak dalam diriku yang terus bersabar-
menciptakan lagu-lagu baru menjelang hidupnya.
12 Maret 2013
Karenamu
oleh Afrilia Utami
oleh Afrilia Utami
Karenamu
aku ingin belajar menulis puisi paling keras
dari kepalan rakyat-rakyat yang ingin lepas bernafas.
aku ingin belajar menulis puisi paling keras
dari kepalan rakyat-rakyat yang ingin lepas bernafas.
Mungkin karenamu
dinding di depanku serupa raut yang bermuka banyak
menulis isi dengan tinta debu
keheningan roman masa lalu
dan imajinasi yang berloncatan dari cekung galunggung.
dinding di depanku serupa raut yang bermuka banyak
menulis isi dengan tinta debu
keheningan roman masa lalu
dan imajinasi yang berloncatan dari cekung galunggung.
Tahun lalu bersamamu
aku menghias kertas dengan kata di atas
percikan api dari mimpi anak-anak
sambil mencukupi umur dengan gulali yang tak mau dilepas.
aku menghias kertas dengan kata di atas
percikan api dari mimpi anak-anak
sambil mencukupi umur dengan gulali yang tak mau dilepas.
Dua tahun yang lalu aku akan meminta alamatmu
aku kenal senyuman yang di bawa Tuhan dari atas awan
yang dilingkari dengan mata-mata pujangga dermawan
rasanya tengah benar-benar aku rasai buahnya cinta
sejak aku belajar membuyung imajinasi ke selat asmara-
Tuhan dan segala kebijakan-Nya.
aku kenal senyuman yang di bawa Tuhan dari atas awan
yang dilingkari dengan mata-mata pujangga dermawan
rasanya tengah benar-benar aku rasai buahnya cinta
sejak aku belajar membuyung imajinasi ke selat asmara-
Tuhan dan segala kebijakan-Nya.
2013
BASAH NEGERIKU
AFRILIA UTAMI
AFRILIA UTAMI
aku selalu batal mengucapkan selamat tinggal
melihat orang-orang berpamitan menuju sangkar
melihat orang-orang berpamitan menuju sangkar
menikmati cuaca makin hari, makin mawai
hujan yang datang deras-deras, banjir-banjir
orang-orang dipinggir mengemas basah.
hujan yang datang deras-deras, banjir-banjir
orang-orang dipinggir mengemas basah.
kabut getir pelan-pelan jatuh di kota ini
meresapi api yang menjadi dingin..
meresapi api yang menjadi dingin..
orang-orang tersiksa di sana.
orang-orang merayakan pesta minuman air mata,
dihujati luka-luka yang lembek dan bernanah!
orang-orang merayakan pesta minuman air mata,
dihujati luka-luka yang lembek dan bernanah!
kenapa ada pertanyaan yang terputus di rel masinis itu
mereka lurus, bagaikan menuju jalan kepasrahan
acuh pada harapan. tak sampai pada imanmu.
mereka lurus, bagaikan menuju jalan kepasrahan
acuh pada harapan. tak sampai pada imanmu.
ada manusia yang suka meraba manipulasi
ada manusia yang hanya hidup karena alasan kuasa
tapi aku tak ingin kamu seperti itu. mereka yang membalik
ke ujung perjudian. menggadaikan sebatang hidup kelik
di atas meja, di atas kecurangan, di atas segala yang buat buta.
ada manusia yang hanya hidup karena alasan kuasa
tapi aku tak ingin kamu seperti itu. mereka yang membalik
ke ujung perjudian. menggadaikan sebatang hidup kelik
di atas meja, di atas kecurangan, di atas segala yang buat buta.
ya, aku selalu gagal, sayangku..
saat hari-hari memerlukan dekapanmu
kau pergi lagi, memainkan putaran waktu.
dadaku membiru, sayangku..
kita tak pernah jadi berangkat menuju hujan.
saat hari-hari memerlukan dekapanmu
kau pergi lagi, memainkan putaran waktu.
dadaku membiru, sayangku..
kita tak pernah jadi berangkat menuju hujan.
2012
SERUPA RUPA
oleh Afrilia Utami
oleh Afrilia Utami
jika langit membuka gelapnya dari sangkar tipis
awan yang mengapung membuka telapak kecil
lalu mendoakan senja yang kita reguk dan kalungkan.
aku ingin kita sampai ke pulau baru
tempat banyak cinta berkembang subur di sana.
awan yang mengapung membuka telapak kecil
lalu mendoakan senja yang kita reguk dan kalungkan.
aku ingin kita sampai ke pulau baru
tempat banyak cinta berkembang subur di sana.
aku hanya memikirkanmu
aku hanya merindukanmu
aku hanya merindukanmu
ikan-ikan kertas yang kita tanam di lautan
mendapati gelombang yang kuat
sampai kita menepi di tempat luas
membuka kata terima untuk ketenangan.
mendapati gelombang yang kuat
sampai kita menepi di tempat luas
membuka kata terima untuk ketenangan.
mungkinkah kau benar-benar mencintaiku?
sampai aku benar-benar tahu,
kau mulai lupa pada namamu sendiri.
sampai aku benar-benar tahu,
kau mulai lupa pada namamu sendiri.
pertemuan kita berada di atas menara
dan kertas-kertas kering di dalam laci.
engkau akan berhenti mengirimkanku pesan
puisi pendek yang bertuhan
lalu akhir-akhir bertahun lebih cepat
tapi hati kita pelan-pelan hampa.
dan kertas-kertas kering di dalam laci.
engkau akan berhenti mengirimkanku pesan
puisi pendek yang bertuhan
lalu akhir-akhir bertahun lebih cepat
tapi hati kita pelan-pelan hampa.
mataku untukmu, pasanglah..
jari-jari kita mulai membentuk umurnya
sementara di luar gerimis makin menipis.
setiap letak sudut hari ini dalam iklan komersial.
mengenal luka, suka, kasih, dan cinta ditayangkan nasional.
semua yang ada, yang pernah terpetakan
seperti perhitungan dalam rumus kalkulus.
jari-jari kita mulai membentuk umurnya
sementara di luar gerimis makin menipis.
setiap letak sudut hari ini dalam iklan komersial.
mengenal luka, suka, kasih, dan cinta ditayangkan nasional.
semua yang ada, yang pernah terpetakan
seperti perhitungan dalam rumus kalkulus.
dari bulan januari sampai desember
aku menunggumu bangkit
hidup membangun rumah mungil
aku menunggumu bangkit
hidup membangun rumah mungil
hampir 495 hari, aku sampai di sampingmu..
17 Desember 2012
Puisi Terakhir - Soe Hok Gie
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin menghabiskan waktu ku di sisi mu… sayangku…
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisi mu… Manis ku…
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya,
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu
Mari sini sayang ku…
Kalian yang pernah mesra,
Yang simpati dan pernah baik pada ku,
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung…
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin menghabiskan waktu ku di sisi mu… sayangku…
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisi mu… Manis ku…
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya,
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu
Mari sini sayang ku…
Kalian yang pernah mesra,
Yang simpati dan pernah baik pada ku,
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung…
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita tak kan pernah kehilangan apa-apa
Oleh Afrilia Utami
langit yang perlahan membuncit
di hari tua yang sedang piatu dengan mendung.
rumput yang tergelar sepanjang kepulangan angin-
yang landai mengusap dagu kecemasan.
aku lihat jalan-jalan penuh tikungan
fakultas-fakultas yang kesepian dengan mahasiswa-
yang belajar menumpukan tubuh di atas skripsi barunya.
tapi hujan belum turun di pondok cina yang licin ini.
wisma makara, tempat aku membacakan seribu puisi
untuk negara yang sedang dibangun oleh liur para bedebah.
mencampakkan perkawinan pada pancasila, mendaurnya-
menjadi serapan-serapan amandemen yang hanya bisa hidup
dalam tulisan saja.
aku sungguh takut, ya izzatii robbi...
berilah kami alam yang bersedia menerima kami.
dengan segala macam roja' yang hanya satu kepada-Mu.
di zaman yang entah keseberapa macam lamanya
kita akan berpisah lagi, dengan segala kondisi baru
yang lebih tempramental. dan diri-diri yang bermuncullan
akan autis dengan mimpinya. dengan ketuhan sila pertama
pada pancasila yang telah yatim piatu.
kemarilah, sayang...
dekaplah kembali merah darah yang luber di tanah
karena birahi kekuasaan dan pertentangan
tak uzur membelah batu hitam dari hati yang keras.
kemarilah, manisku...
mari kita kembali pada jalan Allah..
kematian tinggal berjarak sedupa dari ibujari kaki kita.
tidak ada yang benar-benar mampu menguraikan dosa
menjadi pahala yang mengambang dikolam-kolam lumpur
yang tinggal lumpur.
kemarilah, pahlawanku...
bantulah orang-orang dalam jalan dakwah yang tak munafik.
hanya islam agama kami, hanya dengan keridhoan iffah
kita akan benar-benar bertahan dalam serangan
untuk suatu yang kita sebut makna sedalam cinta sejati.
yang tidak pernah melawan esok dengan keingkaran.
aku ingin datang lagi ke tempat yang orang menyebutnya pondok cina.
membacakan kata pamit untuk koruptor,
membacakan makna Allahuakbar untuk sebuah reformasi!
aku akan tetap di sini,
dengan islam, identitasku.
02 Muharram 1434 H
aku rasa cukup
hujan tak mampu berangkat dari atas.
dan tinggalah yang ada
gentayangan waktu
yang menakar jarum-jarum tegak ke angkasa
memperbarui sampul sebuah hampa ditabung kejatuhan.
angin tak elakan, angin yang kesepian
menyapukan sentuhan yang membius.
apalah lagi, dua kata yang penuh bahagia
leher kecil yang sempit menahan nafas
dan ia terus memanjang.
aku memanggilmu bahasa
kerap kupanggil kelingkingmu yang luka
tapi kesakitan tidak ada tuntasnya.
apa yang benar kita butuhkan?
apa yang benar-benar kita butuhkan?
yang terbiasa sendiri dengan senyapnya
; kita beradu tanya dan tentang tanya.
30 september 2012
Mata
sore berwarna biru tua
ada yang bilang
bahwa mata, sangatlah berbahaya
ketika melihat.
hampir disetiap letak awan
aku teringat sore itu ; mata yang menjauh
tetapi mata itu, adalah matamu
yang sempat menghalangi mataku
maka lihatlah
sejadah masih tergelar,
airmataku tak seberat 1kg
sujudku menunduk dengan berat
mataku ringan-ringan.
tetapi, masih belum juga menemukan
--tepinya.
jika kau takar,
apakah airmataku lebih dari volume gelas itu?
aku belum pernah menimbangnya.
2011
Jari
jari-jari kerap merangkulkan beban
disela ruas, dikecil-kecil celah
melipatkan garis. tentang kemarin
kita lalui hidup ini.
jari telunjukku
selalu menduga hal dengan tegas
menanyakan itu bin-tang yang kutunjuk
tapi itu lampu, nyatanya. hanya lampu
di dalam kamar. tapi jariku mudah menunjuk
itu hidungmu, aku melihatnya dengan jariku.
jari kelingkingku
berlari kecil di antara ke empat lainnya.
dia itu pendek. pendek itu dia.
tapi dia itu lincah, jika ada guntur berlarian
ingin menangkapnya. dia gemar menyusup
ke dalam telingamu.
hanya dua jari, sisanya ada tiga kuprkan.
mereka sedang di depan cermin, terpukau
menyaksikan ikan-ikan berloncatan
di air yang asin.
2011
18 November
/1/
Aku ingin menuliskan ini di hatimu
dari sepasang anak kucing yang baru
kutemui, di sore tadi.
tapi mulutnya ke depan haus, ingin minum -
air susu, dari induknya yang mati dua pekan, lalu.
setelah aku menemukanmu, di jalanan basah
Kucing itu berangkat menuju lahunanku.
Kita kemudian saling menyapa guntur
Di tepi jalan. Aku menitipkan surat kecil
Di sakumu, dengan tangan kaku. Tertulis
“Aku ingin menemuimu kembali”
kemudian sepasang itu, memanjat ke lampu.
aku melihat senyuman yang giginya hilang
karena kaki-kaki kita melangkah ingin pulang
tapi ke mana? Ke anak kucing yang malang?
; menemuimu adalah kepulanganku.
Kemudian sepasang itu, memanjat ke lampu.
2011
/2/
Gambar itu seakan tertawa
dalam tangisan kering.
2011
/3/
bolehku bertanya, bu?
tapi ibu diam. tak memaling
menganggapku ada.
bolehku bertanya, bu?
ibu malah pergi
membawa fotoku
ke pelelangan ikan.
seharga 25 sen kembali 1 sen.
bu, bolehku bertanya?
lewat waktu, ibu tak lagi
pernah melihat. ibu buta.
dan buta itu aku juga.
dunia ini gelap ya, bu?
sejak buta, ibu lupa
cara berbicara.
2011
/4/
aku sedang ingin mengatakan rindu
tapi dia melarangku. dia kupu-kupu
yang terbang semaunya, aku bebas-
menangkap. namun dia tak mau bebas
dalam tangkapanku.
hap..hap..hap...
dia mengajakku melompat, dari ranting
yang telah bugil. aku jadi daun
dimakan ulat-ulat, aku jadi kering dan-
berbolong-bolong. jatuh mendekap tanah
berwarna merah.
aku sudah jatuh..
di merah yang berasal dari tubuhku.
2011
/4/
katakanlah...
jujur.
mengapa aku
tak pernah miliki
senyummu.
2011

