: Reski Handani
Dua puluh dua berlari dari halaman sejarah
Berumahkan laut dan seikat bambu tajam.
Dengan kail arah pada raut sang pemanah.
Tanpa pejam.
Membakar akar rambut mengemasi sedari yang jadi
Sekamar kepala menjatuhkan air asin, menarik sisa.
Lengkap dengan busana hujan yang dibawa basah –di dalam.
Engkaukah..
Dengan pemancing tawa, penata halaman dari yang tersedia.
Tangkai perahu yang berdemaga di tepi lautan, bintang pemimpi
Segenggam nadi kata terus berdetak jadi padma tak bergelap.
Lelagu di dasar memarkirkan pecahan keringat di dahinya
: Rangga Umara
Di samping jiwamu, ada aku.
Berjalan mengemudikan sisa waktu
lampu-lampu Tuhan dan segelintir mata tahanan
-keheningan yang membilang
Aku bersembunyi di senyummu, menulis dengan sebiji kapur.
Ketika pemuda kecil meniup lilin kehidupan. Menyalakan yang baru.
Ketika aku merapalkan do'a dibalik deras hujan.
... jari kelingking yang gigil.
Aku tiba bersama waktu dengan gerobak
berkayu tua dan rayap yang giginya ompong dua.
Ada ibu diroda yang berputar, membawa tulangtulang ayah-
menggelinding di sepasang cincin bermata cinta,
separuhnya telah retak.
Kakiku berjalan ketika itu, dengan kursiroda yang berlari.
Banyak lubang dalam-dalam menanamkan bom-bom teroris
yang mati kemarin. Memeluk sepi sepanjang kematian.
Ayah berpesan. "Tanamlah bom itu ditempat yang sesuai."
: Di diriku aku menanam bom.
Ini aku.
Genangan penantian-
tentang mimpi-mimpi yang sama
dia miliki.
Kepada bintang timur seusai takhbiratul ikhram.
Inilah
Aku yang menyanggupi dalam senyummu,
yang ketika itu dia tahu.
Aku sembunyi
........ dikecil airmatamu.
Ini adalah aku.
Sebaris nyanyian sore,
--membatik do'a kematian di tubuhmu.
Dia paham aku telah terkubur lama, dan
tinggal dalam menara kehidupan anak nelayan.
Mengarungi tubuh usiamu. Dari Zaman Paleolitikum.
.....dari palung dua telapak tanganmu.
Pada persimpangan catatan waktu
kita bertemu dengan secarik lembar ukhuwah
kulihat luka berpendar di pipimu,
........saat seujung ucapkan pisah.
Senyumku mungkin mengering karenanya.
Kita mengambil sisa kapur yang telah patah.
Papan hitam. Penggaris panjang. Kata serta angka-
Jam dinding kusam.
Bangkubangku tua dengan wajah kemasan.
Dari kacamata-
yang retak sebelah.
kecuplah aku dengan senyummu
biarku istirahat disepanjang ranjang ini,
kedua mataku telah terjatuh dalam penutupan;
biar sajak-sajak membalut lembut. kolom-kolom jiwa.
--merentangkan mungil tiap kepala do'a
bergetaran dan menyejukkan jiwaku;
terbangkanlah dawai-dawai harpa petikan dua tanganmu
dari sisa tulangtulang di persimpangan jalan yang mengantarkanku.
bisikanlah bayangan Tuhan dan singkapkan tabir duka hatiku.
