hari-hari awalnya penuh rencana
dari api yang surut membakar koarkoar
trotoar perkampusan tragedi semanggi.
dia mengingat wajah Monalisa
atau ibu Raden Kartini, wanita dengan bahasa.
kisah pelangi dengan tujuh bidadari membawa warna.
/1/
sepertimu ..
tidak ada kamar yang kosong tanpa jendela
sisi dari ubin dan lampu yang bersitatap muka
serupa aurora dalam bilangan jantung hati
atau karmina
dari dua baris yang menetap setia.
danau api melebur batangan emas menjadi berharga ..
kutinggalkan raut pintu waktu, di depan jarimu.
jangan meminjamkan aku keladi
dari serat benalu dalam inang bunga
Bunga Anggrek. atau melati yang berjalan
gerah di puncak, serambi berkurva hati.
engkau tertunduk, menutup buku.
duduk dibawah kenari yang bernyanyi
setelah tangis adzan dari kaum perantau
tertidur di dalam lemari dengan belati.
............galau kemarau...............
dalam guci kita umpama menanam biji matatinta
dan mereka berdiri, menggenggam pedang-pedang sahara.
menari dengan Rumi, atau Kahlil Gibran kian merahimkan cinta.
membara.
kata dan angka, lalu menunjuk Esa.
02 April 2011
Sebelah dari hati yang kumiliki jadi rautmu, Dik. Malam ini, Aku ingin membilang malam bersamamu, menuntunmu tertidur dipankuan pundakku. Celotehmu saat usia baru menginjak Sekolah untuk pertama kalinya. Tapi kini, volume tubuhmu bertambah. Wajahmu semakin tampan, dengan tatapan yang diwarisi dari mendiang ayah.
***
“Kaka sangat merindukan sandarmu ketika tangis membasahi baju, menyediakan lautan garam yang parau menuju Oase. Di mana Kaka mengembara jauh, Dari Gobin menuju Sahara. Gurun-gurun yang tertidur membawa jejak pada pepasir, yang hilang kemudian.”
- Ilustrasi Image : Search Google
Hari itu, awal pekan dibulan Februari. Sebelum bulan-bulan yang kaku kulewati tanggal dan jamnya. Tidak ada banyak yang kulihat di sini. Dalam ruang yang telah lama menimbun kejenuhan dan kepengatan dari berbagai batas dan larang. Tetapi, sekali lagi aku mengingat ini bagian kecil dari bekal makna hidup, jalan yang baik untuk coba kukemudikan.
Aku mengenalmu
Seperti pada simbol yang tertera
Pada hitam papan keyboardku
Di mana aku mengetik sebuah isyarat
Dan kau yang menghadirkan ruang itu
Menjadi perintah yang tertata ruah.
Aku mengenalmu
Laku pada sebuah suara
Suara yang berbeda-beda.
Apa saja ada. Mulutmu berbicara
Pada dua speaker gagahku.
Dengan keras kauadukan malas bisuku.
Dengan pelan, tiduri semua gusar berjalan
Ditaman banjir kemarauku.
Tapi, bukan pada unit CPU
Ada kau yang kukenal ada. Sebab
Bukan otak yang selalu berpetak
Dengan wajah kotak. Katak-katak
Retak. Mengatur tindak. Hanya saja
Bukankah kau, merayu proses pada wujud
Terciptanya sebuah gagasan akan perintah
Lalu terciptalah lagi sebuah perangkat
Lunak agar brainware dapat mudah. Menarikan
Klik dan klik lagi. Pada tikus berasumsi listrik.
Namun, jelas kumengenalmu
Sebagai engkau yang ada bersembunyi
Di balik kumis manismu itu...
*terinspirasi dari seorang ahli tehnik yang berjasa ..
30 November 2010
